Jubah Sinterklas : Atribut Natal, Yang Bikin Ribut

 

atribut-natal-5Jubah Sinterklas dan Atribut Keagamaan

Bayi yang lucu dan mungil, umurnya kira-kira masih di bawah lima tahun, ia tampak tenang merangkak menggunakan pakaian dan topi warna merah putih yang biasanya digunakan Sinterklas. Ia tampak gembira dan senang, mungkin karena di hari-hari biasa, bayi mungil ini hanya mengenakan pakaian biasa dengan motif dan warna yang berbeda, tentu saja dengan model yang berbeda pula.

Tanpa mengamati lebih jauh, melihat ciri khas dan penampilannya, dalam waktu singkat pikiran kita sudah pasti bisa menyimpulkan dengan cukup akurat apa agama orang tua bayi ini, kita pasti akan berfikir bahwa bayi yang mengenakan pakaian ala Sinterklas di atas merupakan anak yang di lahirkan oleh seorang perempuan yang menganut ajaran Kristus. Tak hanya itu, kita juga pasti dapat menduga gambar itu di ambil menjelang perayaan hari natal atau ketika ia sedang merayakan hari raya kelahiran Kristus.

Kita memang dapat mengetahui dengan mudah agama seseorang hanya dengan melihat pakaian dan atributnya saja, seperti milihat pakaian bayi di atas kita sudah bisa menyimpulkan apa agama orang tuanya karena memang pakaian ala Sinterklas sudah menjadi identitas atau ciri khas umat kristiani dalam merayakan hari natal, kesimpulan kita hanya sampai di situ saja, hanya dapat menduga agama yang dianut seseorang, tidak lebih dan tidak kurang. Namun bukan berarti kostum tersebut merupakan atribut keagamaan gereja.

Atribut keagamaan merupakan benda tertentu yang menjadi simbol sakral dalam setiap agama. Simbol itu di yakini mengandung keberkahan dan nilai spiritual. Setiap pemeluk agama akan menghormati dan tidak akan berani mengenakannya secara semena-mena, apalagi akan memerintahkan untuk digunakan karyawannya. Tanpa ada larangan dan fatwapun mereka juga akan melarang karyawannya mengenakan simbol sakral agamanya. Karena secara spontan hati kecil mereka akan keberatan dan otomatis akan menolak.

Meski hanya berupa pakaian atau benda tertentu simbol sakral agama tidak bisa di gunakan secara sembarangan, baik oleh umatnya sendiri, apalagi umat agama lain. seperti pakaian Ihram, di dalam ajaran Islam kain ihram bukan kain sembarangan, pakaian ihram mempunyai nilai sakral dan spiritual. warna kain ihram tak boleh di rubah, kita tidak akan boleh mengenakan pakaian ihram warna kuning. karena mengganti warna putih kain ihram dengan warna kuning akan menyerupai kain jubah warna kuning yang sering di pakai biksu Budha Shaolin.

Dalam hal ini mengenakan pakaian ihram menyerupai kain jubah kuning biksu Budha Shaolin sudah pasti haram. Namun, hukum itu tidak berlaku pada setiap hal yang menyerupai pakaian agama lain pasti di larang, misalnya, dalam melakukan shalat sehari-hari, di anjurkan menggunakan pake sorban, jika tidak mau, umat Islam di perbolehkan memakai jas hitam dan celana hitam, bisa mengenakan udeng kayak orang madura, kopyah dan sarung dan lain sebagainya. Selama pakaian itu suci dan dapat di gunakan menutup aurat maka ibadah yang kita lakukan hukumnya sah,

Mungkin kita mau tampil berbeda dan nyentrik, silahkan saja menggunakan pakaian dan topi ala Sinterklas, di jamin pakaian itu tidak akan membatalkan shalat meskipun tidak menggunakan baju koko dan kopyah hitam. Tentu saja, akidah anda tidak akan terkikis gara-gara mengenakan kostum Sinterklas. Begitu juga sebaliknya, seseorang tidak serta merta dapat di katakan imannya kuat hanya gara-gara selalu mengenakan pakaian dan atribut kegamaan dalam kehidupan sehari-hari.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s