Fatwa MUI : Pake Atribut Non Muslim Haram

haram-gunakan-antribut-natalHukum Atribut Natal, Khusus Umat Islam Tertentu Saja

Majelis Ulama Indonesia (MUI) secara resmi mengeluarkan fatwa tentang hukum menggunakan atribut natal, bagi umat Islam “Menggunakan atribut keagamaan non-muslim adalah haram”. fatwa ini dikeluarkan karena adanya permintaan dari beberapa ormas, Tujuannya adalah untuk dijadikan pegangan agar umat Islam tidak menggunakan atribut agama lain.  “Karena itu tidak dibolehkan dalam Islam,” kata KH Ma’ruf Amin, di Jakarta, JawaPos.com Senin (19/12).

Dalam fatwa nomor 56 Tahun 2016 ini dijelaskan juga apa yang di maksud atribut keagamaan. Menurut MUI, atribut keagamaan adalah sesuatu yang dipakai dan digunakan sebagai identitas, ciri khas atau tanda tertentu dari suatu agama dan atau umat beragama tertentu, baik terkait dengan keyakinan, ritual ibadah, maupun tradisi dari agama tertentu. Dengan demikian, di haramkan bagi umat Islam menggunakan seluruh atau sebagian atribut agama lain, meskipun atribut itu merupakan simbol kebudayaan dan simbol konsumerisme saja.

Fatwa MUI nomor 56 Tahun 2016 ini jika di salah fahami akan berpotensi meresahkan masyarakat, ada kecendrungan fatwa terbaru ini akan di terapkan secara membabi buta, menyangkut semua hal yang terkait dengan keyakinan, ritual ibadah, maupun tradisi dari agama tertentu, tidak menutup kemungkinan, sesuai dengan denifisi atribut keagamaan. Suatu saat nanti, makan ketupat pun akan diharamkan dan mungkin juga akan di sweeping, karena ketupat juga terkait dengan keyakinan dan tradisi agama Hindu.

Di pulau Dewata Ketupat di gunakan oleh umat Hindu sebagai sarana bebanten. Umat Hindu Jawa jaman dulu juga melakukannya. Sampai sekarang dalam beberapa tradisi, ketupat dipersembahkan sebagai sesajian uborampe dalam ritual pemujaan kepada dewi Sri. Umat Hindu percaya ketupat merupakan simbol kesuburan dan kemakmuran. Tradisi itu sudah mengakar sejak jaman Majapahit sebelum Islam.

Tak hanya itu, dalam definisi atribut keagamaan, MUI juga mengharamkan segala hal yang merupakan ciri khas dan identitas atau tanda tertentu dari agama lain. Entah…apa definisi tersebut juga menyangkut keharaman menggunakan warna dan arsitektur bangunan yang juga menjadi ciri khas agama tertentu,  Misalnya saja, Masjid muslim Thinghoa di Jawa Timur, yang di desain seperti Klenteng dengan warna dinding merah, dan Masjid peninggalan para sunan yang di bangun dengan arsitektur Hindu Budha, yang tampak seperti bangunan Pura.

Terkait fatwa terbaru Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang dirilis pada 14 Desember 2016, Menteri Agama, Lukman Hakim Saifuddin, mengatakan, Fatwa ulama tidak mengikat dan tidak berlaku untuk semua umat Islam. Fatwa hanya berlaku bagi umat muslim yang memintanya saja, dan kewajiban itu tidak berlaku bagi umat Islam lain, yang tidak memintanya. Dengan kata lain, umat Islam yang meyakininya boleh menjalankan dan bagi yang tidak meyakininya, boleh memilih untuk tidak mengamalkannya.

Fatwa itu dikeluarkan MUI untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan mengenai hukum menggunakan atribut keagamaan non muslim. Karena ada beberapa perusahaan yang mengeluarkan kebijakan mewajibkan karyawannya untuk menggunakan atribut natal seperti, baju sinterklas, topi rusa dan lain sebagainya di beberapa Mall dan pusat perbelanjaan. Di harapkan dengan adanya fatwa tersebut pihak keamanan dapat melindungi masyarakat.

Prinsipnya tidak boleh ada pemaksaan terhadap keyakinan beragama bagi pemeluk agama lain. Karyawan Muslim yang tidak mau menggunakan atribut agama lain, tidak boleh dipaksa apalagi diberi sanksi. Demikian juga sebaliknya umat Islam juga tidak akan memaksakan keyakinannya kepada agama lain termasuk dalam hal atribut keagamaan,” terang Ketua Fraksi PKS, Jazuli Juwaini.

Sementa itu dalam mensosialisasikan fatwa haram menggunakan atribut keagamaan non muslim, ada kelompok tertentu yang nekad melakukan sweeping dengan alasan mendukung fatwa MUI, karena mungkin mereka kurang jeli memahami tradisi perayaan natal, mereka terkesan sedang mengaitkan antara atribut natal dengan keyakinan umat Kristiani. Padahal semua atribut natal yang di gunakan karyawan di mall-mall, seperti baju sinterklas, dan topi rusa hanya merupakan simbol kebudayaan dan simbol konsumerisme saja. Sama sekali tidak ada kaitannya dengan keimanan umat Nashrani.

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s