Tidak Ada Demo 212, Tapi Doa dan Dzikir Bersama, Benarkah..???

Aksi 212 Pimpinan DPR Diganti,Permainan Berubah

“Tidak ada Demo, Tapi Doa dan Dzikir Bersama”, begitu kira-kira pernyataan Jokowi yang saya dengar di siaran televisi, tentu saja saya nonton di TV One, karena televisi di rumah hanya bisa menangkap Channel itu saja, meski penyiarnya bukan Cacha Annisa, Presenter cantik dan menggoda. tapi saya tetap saja mendengarkan berita yang di sampaikan walau hanya sebentar, karena ada halilintar takut rumah ku bergetar terpaksa televisi saya matikan. Namun, sambil bersandar di balik pintu kamar, diam-diam saya berfikir apa makna di balik pernyataan Jokowi.

“Tidak ada demo”, Pernyataan tidak ada demo dari Jokowi mengandung pesan singkat, deal deal politik di tingkat pemain catur sudah aman dan terkendali. ini artinya lobi-lobi politik jokowi sudah selesai sehingga aksi 212 ini sudah tidak mengamcam keutuhan dan kesatuan Indonesia dan kasus penistaan agama oleh Ahok sudah bisa di selesaikan di atas meja makan.

Di tingkat Dewan sudah aman, Perubahan formasi pimpinan DPR sudah berhasil di lakukan dengan mulus. Setio Novianto sudah di tetapkan sebagai Ketua DPR untuk menggantikan Ade Komaruden. Ide pergantian pimpinan ini mulai di wacanakan usai Jokowi bertemu Setio Novianto di Istana. Ketika pertama kali ada wacana pergantian pimpinan DPR, saya pernah kerkata pada seorang teman, jika Ade Komaruden dan loyalisnya bergejolak itu artinya permaianan cantik jokowi masih belum bisa meredam gejolak politik, saya tunggu-tunggu munculnya gejolak dan komentar pedasnya, sampai hari ini ternyata aman-aman saja.

Di tingkat pendemo juga sudah terkendali, Dialog bapak Kapolri Tito dan beberapa tokoh di Gedung MUI, menghasilkan kesepakatan yang menggembirakan, hasil dialog merubah susunan acara aksi 212, Mereka yang bersikap keras sudah bisa di ajak bicara. Dengan senang hati mereka mau merubah aksi demo pake shalat jumat dengan Aksi Doa dan Dzikir bersama di lapangan Monas., ini pertanda situasi politik sudah mulai mereda. tapi masih tetap hangat meski sudah tidak sepanas seminggu yang lalu.

Sementara itu, berkas perkara kasus penistaan agama Ahok sudah di limpahkan ke Kejaksaan Agung, dan sudah di tingkatkan menjadi P21. Kasus Ahok ini mungkin akan segera di sidangkan, tapi saya masih belum tahu apakah sudah ada perintah penahanan terhadap Ahok atau belum, yang pasti, Ahok berjanji siap bertarung di persidangan.

Benarkah ini aksi Super Damai…?? Jika hanya masalah penistaan agama, Doa dan Dzikir bersama yang akan di gelar 2 Desember mendatang pasti akan menjadi Super Damai. .Tapi masalahnya dana yang di keluarkan terlalu besar untuk sekedar aksi menuntut penahanan Ahok. Tentu pemain tidak mau rugi bandar.

Karena formasi pimpinan DPR sudah di rubah, tujuan utama aksi yang terselubung sudah tak mungkin tercapai, Massa harus di pecah. Kaum buruh yang semula akan bersatu dalam aksi massa Islam 212 harus menggelar aksi sendiri, yang penting harus ada Demo, Aksi Mogok Nasional pun akan di gelar bersamaan dengan aksi Doa dan Dzikir bersama. salah satu Issu yang di angkat sama dengan issu GNPF MUI. “Segera Tahan Ahok “. Lho…kan ada aksi 212 versi kaum buruh..

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s