Keunikan Aksi Damai 212 : Shalat Jumat di Pake Demo

aksi-sholat-212Shalat Jumat Termegah dan Terpanjang  Sultan Al Fath Bukan Di Jalan Raya

Aksi Bela Islam jilid 3, yang di klaim super damai  tak hanya unik karena identik dengan pendekar Wiro Sableng namun ada kunikan lain yang lebih fenomenal, gelar Sholat Jumat di Jalan Raya,  Mungkin juga aksi gelar sajadah tersebut nanti akan mendapatkan rekor muri karena keunikaannya, sebab selama ini belum pernah ada aksi demonstrasi yang menggunakan acara Ibadah sholat jumat. Acara ini akan menjadi Shalat Jumat paling fenomenal sepanjang sejarah, setelah shalat termegah dan terpanjang yang pernah di lakukan Sultan Muhammad Al Fath di depan benteng Konstantinopel.

Pada Penaklukan Konstantinopel tahun 1453, Sholat Jumat termegah dan terpanjang dilakukan oleh Sultan Muhammad Al Fath bersama ribuan jamaah membentang sepanjang 4 km. Sholat terpanjang ini di laksanakan dalam kondisi darurat perang, Kala itu Muhammad Al Fath menjadi imam, ia berdiri 1,5 km di depan benteng Konstantinopel, sebuah benteng yang tak mudah di tembus berdiri kokoh di depannya, melingkupi istana megah, kubah, dan menara, yang mencakup dua benua.

Tidak ada sebuah Masjid di sana, jangankan masjid surau pun tak mungkin ada. Sultan Muhammad Al Fath  dan 80.000 prajurit menggelar jamaah sholat jumat di tanah lapang dan bukan di jalan raya. apalagi di tengah perkotaan. jamaah shalat jumat Sultan Al Fath berbaris dari Pantai Marmara hingga Selat Golden Horn di utara. Namun, Sultan Muhammad Al Fath dan pasukannya tak mengganggu kepentingan umum. sebab aktivitas penduduk Kontantinopel ada di dalam kota yang di lindungi Tembok Theodosian, yang terdiri dari dinding ganda membentang sekitar 2 KM (1,2 mil) ke barat dari dinding pertama.

Dalam Penaklukan Konstatinopel. Sultan Muhammad Al Fath tidak mewacanakan gelar sajadah dan sholat jumat di depan Benteng Instana Konstatinopel, Sebab mereka memang sedang berkemah dan bermukim di sepanjang Pantai Marmara hingga Selat Golden Horn di utara. di sana mereka sedang menyusun formasi pasukan untuk mengepung kota dan menembus dinding Tembok Theodosian.  Pengepungan  itu memakan waktu selama 54 hari. Namun, Sholat termegah dan terpanjang itu bukan termasuk dalam susunan acara pengepungan Konstatinopel.

Aksi bela Islam 212, yang di senyalir oleh kepolisian sebagai upaya Makar atau Pengepungan Istana kepresidenan, Peserta aksi bela Islam jilid 3 akan menggelar shalat jumat di jalan protokol, dengan posisi Imam berada di Bundaran Hotel Indonesia, sebelum acara inti dan tujuan utama aksi yang terselubung dan tersembunyi pendekar 212 ini di lancarkan.  Entah, aksi gelar sajadah ini terinspirasi dari shalat jumat terpanjang yang pernah di lakukan oleh Sultan Muhammad Al Fath di depan benteng Konstantinopel itu apa tidak, saya kurang mengerti.

Yang pasti, beberapa hari ini banyak muncul pro dan kontra terkait keunikan aksi demo gelar sajadah pada aksi damai 212. beberapa kalangan mempersoalkan boleh dan tidaknya menggelar aksi sholat Jumat di jalan raya menurut hukum Islam. Komentar yang muncul dari beberapa pimpinan Ormas Islam sepanjang yang saya ketahui, hanya fokus pada persoalan hukum sah dan tidaknya Sholat Jumat saja.

Ketua PBNU KH Said Aqil Siradj mengatakan, ” Shalat Jumat di jalan tidak sah menurut mahzab Syafi’i dan Maliki”.  Sementara itu, menanggapi rencana salat jumat di jalan, Ketua Umum MUI Ma’ruf Amin mengatakan. ” fatwanya Lagi dibahas”,  sebab untuk mengeluarkan fatwa MUI mempunyai mekanisme sendiri . Entah apa keputusan hasil pembahasannya  terkait fatwa  Sholat Jumat di Jalan Raya pada aksi 212 mendatang. saya masih belum mendapatkan informasi dari media.

Tapi saya pribadi melihat ada fenomena lain di balik keunikan aksi demo 212 ini, yaitu, motivasi atau niat di selenggarakannya aksi demo pake shalat jumat dan bagaiamana memaknai aksi damai ini, apakah ini “Sholat Jumat di Pake Demo” atau “Demo Pake Sholat Jumat”. yang pertama,  kalau “Sholat Jumat di Pake Demo” artinya kita punya kesengajaan mengumpulkan orang tepat di hari jumat, karena hari itu memang umat Islam berkumpul, tapi untuk tujuan politis. niat Shalat jumat sambil demo, sedangkan yang kedua, kalau “Demo Pake Sholat Jumat”. artinya kita mengemas acara aksi untuk kepentingan politis agar terkesan damai dan agamis. niat Demo sambil sholat jumat.

Apa pun yang kita pilih, nomor  satu atau dua tetap saja aksi gelar sajadah di jalan ini cukup unik dan penuh kontroversi. Menurut saya aksi gelar sajadah ini adalah fenomena sosial keagamaan di mana kegiatan Ibadah di Pake Demo, atau Demo Pake Aksi Ibadah Massal dari pagi sampai petang, dengan mengganggu kepentingan umum. sebab jika tidak demikian mereka sebenarnya bisa mencari hari yang lain selain hari jumat. Alasannya, jika memang GNPF MUI berniat super damai, mereka bisa melaksanakan aksi 212 seperti aksi 411, sholat jumat dengan Imam ada di dalam masjid Istiqlal, kalau jamaahnya membludak sampai keluar masjid  dan memenuhi jalan raya itu tidak masalah.

Entah mengapa meraka memaksa sholat dengan posisi Imam berada di Bundaran Hotel Indonesia. Artinya ada agenda lain yang terselubung dan tersembunyi. Dengan demikian ini merupakan “kegiatan Ibadah di Pake Demo ”  yang sengaja di gunakan untuk aksi. dan memancing pihak kepolisian untuk bertindak. dengan kata yang lebih halus, terselip niatan di dalam hati, ada tujuan lain selain masalah penistaan agama.

Seharusnya Ahok di Dakwa Pencemaran Nama Baik Elite Politik Bukan Penodaan Agama

Namun, uniknya, ketika para pemimpin ormas Islam berpolemik hanya terfokus pada permasalahan hukum sah dan tidak, shalat di jalan raya.  Ulama Kharismatik dari NU, KH Musthofa Bisri angkat bicara terkait Sholat Jumat di Pake Demo , ia mengatakan ” jika Sholat Jumat di jalan itu benar-benar terlaksana, ini merupakan Bid’ah terbesar sepanjang sejarah”. Pernyataan yang di lontarkan Gus Mus tidak sedang berkomentar tentang hukum sholat jumat di jalan, tapi melihat aksi ini dari sisi kegiatan ibadah wajib yang di pake untuk demo.

Menyikapi fenomena “kegiatan Ibadah di Pake Demo ” ini Gus Mus memang cukup jeli .”Sepanjang sejarah dari Rasullullah sampai sekarang belum ada sholat jumat di jalan raya”. tambahnyaMaksud Gus Mus, Belum pernah ada “kegiatan Ibadah di Pake Demo” apalagi pake sholat jumat yang di laksanakan di jalan raya.Dengan kata lain, ini sama saja dengan Niat Haji Pake Uang Korupsi, atau Niat Korupsi di Pake Naik Haji.

Terkait masalah “kegiatan Ibadah di Pake Demo ” sampai artikel ini di tulis, PBNU, Muhammadiyah,MUI dan beberapa pimpinan Ormas Islam lain masih belum menyikapinya secara khusus, untuk memberi Fatwa boleh dan tidaknya suatu amal ibadah di gunakan untuk aksi demonstrasi, seperti  “Sholat Jumat di pake Demo”, sebagaimana rencana aksi 212 yang akan di gelar oleh GNPF MUI dan ormas-orams lain di sepanjang Jalan Protokol, Sudirman-Thamrin pada 2 Desember mendatang.

Keunikannya lagi, dan Yang tak kalah uniknya dari Sholat Jumat termegah dan terpanjang yang pernah dilakukan oleh Sultan Muhammad Al Fath di depan benteng Konstantinopel ini adalah  Sholat Jumat yang di gelar sepanjang Jalan Sudirman dan MH Thamrin ini hanya untuk menekan Jokowi dan menuntut Ahok di tahan. Wah… Betapa hebatnya Jokowi dan Ahok karena di dunia ini hanya  Jokowi dan Ahok yang di demo pake shalat Jumat Terpanjang dan Termegah setelah Kaisar Konstantinopel.

Iklan

13 thoughts on “Keunikan Aksi Damai 212 : Shalat Jumat di Pake Demo”

  1. Kalau setahu saya aksi 212 itu niatnya bukan shalat jumat di jalan raya, tapi dzikir dan doa bersama, kalau kita bijak dan pintar menyikapi aksi ini,tentu kita paham kenapa sampai shalat jumat di jalan raya, tapi kalau menyikapinya tidak bijak dan tidak pintar karena kita pendukung si BTP,, ya sebenar apapun kegiatan kita tetep saja salah, takkan ada benarnya.

    Masalah di depan benteng konstantinopel, jika di izikan Kapolri sebenarnya aksi 212 itu akan di gelar di depan istana negara, tapi aparat negara terlalu takut dengan warga muslim yang damai,takut makar, padahal tak ada bukti. terus masalah perang darurat, mungkinkah..? anda sekarang bisa berpikir sekarang darurat hukum, sebab hukum kurang adil.

    Saudaraku, dari dulu yang namanya penista agama itu selalu di tahan, hanya ini aja, sudah di laporkan tapi selalu tidak di indahkan,kasusnya tidak di urus, ini darurat bro, hanya karna BTP hukum kita banci,maaf saudara bukan maksud menghina,tapi itu nyata, bukti berkas sudah sampai kejagung BTP belum di tahan,alasan polisi,sekarang bukan hak polisi untuk menahan,dari kemarin kemana aja..?
    begitu kira kira yang saya tahu,kalau salah mohon di maafkan.

    1. Salam Hormat Mas Ali Sadikin
      Saya minta maaf jika dalam artikel ini ada uraian-uraian saya yang kurang berkenan di hati Mas Ali Sadikin…

      Ijinkan saya menjawab poin poin yang saya anggap penting dari komentar Mas Ali Sadikin di blog ini..

      Untuk masalah Aksi 212 di Monas, Saya sependapat dengan Mas Ali, aksi 212 di monas hari jumat kemarin adalah doa dan dzikir bersama dan saya sangat bersyukur doa bersama di sana berjalan lancar,

      Untuk masalah aparat, hampir semua aparat adalah muslim, jadi pada prinsipnya, aparat tidak takut pada muslim yang damai…tapi dari semua ribuan umat yang hadir, banyak kelompok yang datang berbondong-bondong, dan tidak dalam satu koordinasi, Terjadinya kerusuhan pada aksi 411 setelah jam 18:00, tetap saja di khawatirkan akan terulang lagi..

      Jika kita meilihat dari sudut pandang yang lain, misalnya, kita berposisi sebagai kepala rumah tangga, melihat anak kita pernah terbakar karena bermain api, Maka otomatis, di lain waktu jika kita melihat gerak gerik anak kita akan atau sedang bermain api… tentu kita akan merasa khawatir kejadian itu terulang lagi, sampai di sini Mas Ali Sadikin mungkin mengerti maksud saya…

      Untuk masalah penistaan agama saya sepakat, semua pelaku penistaan agama harus di hukum. Dengan catatan tersangka pelaku memang benar-benar melakukan penistaan agama.

      Untuk masalah tuduhan Makar, ini masalah situasi politik Nasional, memang sulit untuk di buktikan dan di beberkan di muka umum sebab hanya berupa sebuah rencana, tentu rencana makar tidak mungkin di lakukan oleh ormas Islam yang hadir dalam aksi doa dan dzikir bersama hari jumat kemarin.

      Situasi politik berubah dengan cepat, Situasi sudah tidak menguntungkan untuk mereka, akhirnya mereka tidak mau berkecimpung lagi dan mengurungkan niatnya untuk melakukan makar oleh karena itulah aksi kemarin bisa berjalan aman dan damai.Dan Jokowi beserta jajarannya bersedia hadir.

      Yang terakhir, sekali lagi, saya minta maaf tentang isi artikel di atas, Mungkin ada beberapa hal, dimana saya dan Mas Ali Sadikin serta pembaca-pembaca yang lain, berbeda pendapat dengan saya karena memang kita melihat dari sudut yang berbeda. saya membacannya masalah ini dari sudut pandang manajemen aksi.

  2. Analogi anda salah menyamakan pake uang korupsi untuk naik haji. Ini adalah panggilan iman, mengetuk pintu langit bersama-sama, bukan lagi pintu istana.memohon pertolongan Allah bukan lagi manusia spt di 411

    1. Masalah hukum memang tidak sama dengan iman, disiplin ilmunya juga berbeda.

      Ilmu fiqh berbeda dengan ilmu tauhid dan aqidah.
      Fiqh selalu bicara sah dan tidak, halal atau haram.

      Tapi apapun pendapat yang di keluarkan, rubrik penilaiannya hanya berkisar, kuat dan lemah.
      Ulama A lebih kuat pendapatnya.
      Ulama B kurang kuat.
      Hanya itu saja.

      Selanjutnya,
      Artikel di atas di tulis tgl 27 November, tulisan ini tidak menyikapi doa bersama dan sholat di monas tapi menyikapi “rencana” aksi sholat jumat sebelumnya yg kemudian di batalkan setelah ada kesepakatan di Gedung MUI, Menteng.Jkt

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s