Misteri Pulau Seribu, Di Balik Aksi Bela Islam

milisi-musilimKutukan Pulau Seribu, Bangkitkan Kesadaran Khilafah

Ketika Mahkamah Darurat Perang (Mahadper) menawarkan untuk mengajukan permohonan grasi kepada presiden Soekarno, supaya hukuman mati yang telah dijatuhkan kepadan Imam besar dan proklamator berdirinya Negara Islam Indonesia dibatalkan,   Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo menjawab , “Aku Tidak Akan Pernah Minta Maaf kepada Soekarno“. Kematian sang Imam tidak menyurutkan semangat Jihad para pengikutnya untuk mendirikan Negara Islam Indonesia. Soekarno pun banyak menerima kutukan dari pengikut sang imam.

Imam Besar Pembela Islam yang semula di bentuk untuk melawan penjajah itu di jatuhi hukuman mati oleh pengadilan militer pada 16 Agustus 1962. Pemerintah Orde Lama, merahasiakan di mana tempat eksekusi dan Jenazah sang Imam di semayamkan. Selang beberapa tahun kemudian, terdengar kabar bahwa Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo ditembak mati dan dimakamkan di Pulau Ubi, Kepulauan Seribu. Tempat di mana Ahok, Calon Gubernur yang di usung Megawati Soekarnoputri, membuat pernyataan yang di duga menistakan agama. Kebetulan juga Presiden RI ke 7, Jokowi merupakan presiden yang di dukung penuh oleh keturunan dari Presiden Soekarno.

Gara-gara pidato Ahok di Pulau Seribu pemerintahan Jokowi terkena Kutukan, Situasi politik cukup panas seakan-akan akan ada guncangan yang cukup hebat.  Gempa Bumi yang terjadi pada malam rabu beberapa hari yang lalu, seakan memberi tanda, bahwa semangat kesadaranan memperjuangkan berdirinya Negara Islam atau yang sekarang di sebut Khilafah akan segera bergerak. Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo yang terkubur di kepulauan seribu seakan-akan tidak rela mendengar ucapan Batsuki Tjahaya Purnama alias Ahok.

Kebangkitan kesadaran jihad dan anti pancasila sebagaimana pernah di serukan Imam besar Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo berpotensi membentuk kekuatan yang besar yang sewaktu-waktu akan menggoncang pemerintah. Benturan dua kekuatan akan menciptakan peristiwa besar dan berbahaya, Kutukan pulau seribu ini sudah  bisa kita amati tanda-tandanya.  …

Kesadaran umat Islam yang luar biasa hebatnya bersatu dalam satu gerakan ketika aksi damai jilid II di gelar ,jumat, 04/11. Ratusan ribu umat Islam yang berkumpul di tiga titik Istiqlal, Patung Kuda pada aksi 4II kemarin, merupakan bentuk test case berapa banyak umat Islam Indonesia yang mulai sadar Khilafah dan anti pemimpin non muslim.

Kita bisa amati alam bawah sadar peserta aksi demo yang datang di berbagai daerah seakan-akan merefleksikan kesadaran perlawanan terhadap sistem pemerintah. Orasi-orasi yang sangat provokatif, dan sebagian peserta terkesan di persiapkan oleh sekelompok orang untuk membuat kericuhan.

Padahal gerakan ormas Islam ini bermula dari Issu lokal menolak Ahok sebagai pemimpin non muslim,  gerakan ini sudah muncul pada Pilkada DKI 2012, lalu  seiring kemenagan Jokowi Ahok isu ini mereda,  setelah menyebarnya Pidato Ahok di kepulauan Seribu menjelang Pilgub DKI 2017 yang menjadi viral di media sosial, kemudian isu menolak pimimpin non muslim  bergesar 180 derajat menjadi Issu Penistaan agama.

Sejak tumbangnya Penguasa Orde Baru gerakan anti pancasila dan konstitus negara mulai tumbuh. Ini bisa kita lihat dari maraknya wacana-wacana Khilafah yang sudah mulai berkembang pesat dan  issu agama dan ras mulai bermunculan di berbagai daerah. Di mulai dari kegiatan diskusi-diskusi kelompok kecil  di sekolah-sekolah dan kampus-kampus dan beberapa ormas radikal.

Apakah ini pertanda konflik bersenjata antara pendukung Pancasila dan anti Pancasila akan terjadi di pemerintahan Jokowi seperti yang pernah terjadi di era kepemimpinan Soekarno, Ia menangkap sahabat karibnya sendiri Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo, kala itu TNI melakukan Operasi militer menumpas Tentara Islam di berbagai daerah dan di lanjutkan sampai pemeritahan Orde baru.

Tentu tidak sejauh itu, sebab jumlah ormas Islam Radikal yang anti Pancasila dan Demokrasi tidak sampai 10% dari rakyat Indonesia.Namun, Jika kita melihat perkembangan gerakan Islam Radikal Timur Tengah, seperti ISIS, Bukan tidak mungkin,  issu penistaan agama ini akan di mainkan oleh sekelompok orang di luar sana, yang tabu untuk di bicarakan, untuk merencanakan “Peristiwa Besar dan Berbahaya”

Inilah alasannya Usai aksi 411 Jokowi sibuk berkunjung ke beberapa Ormas Islam, TNI /Polri , PangKostraf, Koppasus, dan Brimob,  Blusukan Politik Jokowi ini di lakukan sebagai tindakan antisipasi munculnya kesadaran Jihad sebagaimana pernah di serukan Imam besar Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo, gerakan anti demokrasi dan pancasila ini akan berpotensi memecah belah bangsa.  sebab  di tengah situasi perekonomian Indonesia yang sulit dan sedang merosot, kekacauan sekecil apapun harus di hindari.

Jika Demo susulan yang di rencakan 2 Desember berhasil menciptakan kekacauan yang hebat, maka peristiwa itu akan  meledak menjadi issu Internasional,  Bukan FPI dan beberapa ormas Islam yang ikut Aksi itu yang kita takutkan, tapi sekelompok orang di luar sana, yang tabu untuk di bicarakan, tidak akan pernah menyiayiakan kesempatan emas ini untuk segera bertindak menciptakan  “Peristiwa Besar dan Berbahaya”.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s