Usai Aksi 411, Antara Soekarno dan Jokowi

jokowi-politikBlusukan Politik Jokowi

Usai aksi damai 4 november situasi politik Indonesia menjadi tidak menentu. Muncul banyak spekulasi terkait siapa dalang  atau ”aktor politik ” yang di sebut-sebut telah menunggangi  aksi damai tersebut. Jokowi pun mendadak melakukan Safari politik ke beberapa Ormas Islam, TNI, Polri, Brimob, Bahkan Markas Koppasus.  seakan-akan “Peristiwa Besar dan Berbahaya”  akan mengancam negeri ini.

Sebagai presiden sekaligus Panglima tertinggi di negeri ini, Jokowi tentunya sudah mendapatkan informasi dari Intelegen Negara, Informasi Intelegen sudah dapat di pastikan mampu menjawab pertanyaan ”Siapa Aktor Politik” itu, Ini rahasia negara. Tak bisa di sebar luaskan. Sebab Hukum yang berlaku di negeri ini, segala sesuatu Tindakan Melawan Hukum harus di buktikan di pengadilan, Jika tidak terbukti, malah jadi BOOMERANG..,

Makna tidak terbukti disini, Alat bukti yang di ajukan tidak memenuhi kreteria Kebenaran material dan Kebenaran Formil, Bukan berarti tidak ada tindakan Melawan Hukum, hanya saja di pengadilan nanti tersangka tidak bisa di vonis bersalah, dan si pelapor akan bisa di gugat balik, dengan pasal Pencemaran nama baik, Nah jadi BOOMERANG kan..?

Saya tidak akan menduga-duga ”Siapa Aktor Politik”  yang di maksud Jokowi,  tapi saya lebih tertarik,” Apa Targetnya...?”  Target Utama inilah yang membuat Jokowi begitu sibuk melakukan Blusukan Politik usai aksi 4 November. Blusukan bagi jokowi memang sudah biasa, tapi Blusukan Politik Jokowi kali ini berbeda, ia sering menegaskan   ”Saya sebagai Panglima tertinggi” dan ”mengintruksikan untuk ” . ini memberi sinyal,  Negara akan menghadapi Peristiwa Besar dan Berbahaya,  Duh kok Ngeri sekali..

Presiden Soekarno, Bapak dari Ibu Suri Kerajaan ini,Megawati Soekarnoputri, pernah mengalami peristiwa besar dan berbahaya. Usai Gerakan 30 September, Enam orang jenderal jadi korban, Pelaku sebenarnya gerakan itu sebenarnya masih dalam kontroversi, tapi PKI (Partai Komunis Indonesia) di tuduh terlibat di dalamnya. Kemudian massa dari KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia) dan KAPI (Kesatuan Aksi Pelajar Indonesia) melakukan demontrasi mengusung Tritura (Tiga Tuntutan Rakyat), salah satu Issu yang di angkat adalah bubarkan PKI. Namun  Soekarno menolak, Penolakan inilah yang melemahkan posisi Sokarno dalam politik.

Surat Perintah 11 Maret pun di keluarkan, Surat sakti tersebut di gunakan Panglima Angkatan Darat, Soeharto untuk membubarkan PKI, sekaligus menyatakan sebagai organisasi terlarang. Kamudian Super Semar di kukuhkan dalam TAP MPRS dan TAP No, XV/1966 sebagai jaminan kepada Soeharto, untuk setiap saat bisa menjadi presiden apabila presiden berhalangan…Lho..apa ini ada hubungannya dengan Issu Pemecatan Panglima TNI…?? jelas tidak ada hubungannya, sebab ini adalah sejarah, lalu apa hubungannya dengan Blusukan Politik Jokowi …???

Saya hanya menduga, Blusukan Politik Jokowi ini, salah satunya adalah upaya menggalang dukungan Ormas Islam dan Militer.   Langkah berikutnya, Presiden akan mengunci gerak ormas radikal, Organisasi yang menghina lambang negara Pancasila dan Proklamator Republik Indonesia, Menebarkan Kebencian kepada Pemerintah dan Golongan, serta menyatakan komunitas tersebut sebagai organisasi terlarang. tapi tentunya, akan di lakukan secara halus dengan cara-cara jokowi

Sebab, menanam bibit kebencian terhadap pemerintah dan ideologi negara, secara sistematis dan struktur, di pinggir-pinggir kota dan pedalaman yang jauh dari keramaian, dan juga di tempat-tempat ibadah. kalau di biarkan akan berpeluang memecah kesatuan dan persatuan bangsa, Baik pemerintahan saat ini maupun yang akan datang, tidak perduli presidennya siapa…Mau Soekarno, Mau Jokowi, Mau Gusdur…

Faham dan Gerakan mereka akan bikin negara pusing tujuh keliling,  belum lagi kalau kita lihat dari situasi politik global…kita semua tidak mau di Indonesia ada gerakan ISIS atau yang serupa dengan mereka..tanda-tanda ke arah sana sudah mulai terlihat, bom di gereja dan Vihara yang meledak tidak bisa terlepas dari kepentingan politik Global…

Lho…apa hubungannya dengan Target Aktor Politik Aksi 411 dan Penistaan Agama…???, seacara langsung jelas  tidak ada hubungannya….

Kita bicara ngawur saja, tuduhan Gerakan 30 September, dan pembunuhan terhadap 6 Jenderal terhadap PKI kala itu masih dalam kontroversi,  Apalagi tuduhan itu perlu di buktikan, perlu proses penyelidikan dan penyidikan. PKI bukan kelompok oposisi tetapi partai koalisi pendukung pemerintahan Soekarno, yang di sebut (NASAKOM),  Bagaimana mungkin, ada partai penguasa melakukan pemberontakan, mau berontak kepada siapa..? Tapi issu PKI terlibat dalam gerakan 30/September  cukup berkhasiat.  Situasi ini membawanya berada pada posisi yang sangat sulit.

Bagi mereka kala itu, Tuduhan PKI terlibat gerakan 30 September itu terbukti atau tidak, itu urusan lain. yang penting PKI harus Bubar, PKI beraleansi dengan Republik Rakyat China, Etnis Thiong Hoa harus di awasi, akhirnya mereka berhasil membuat Soekarno di pandang sebagai musuh rakyat.karena “Melindungi Komunis dan Pembunuh 6 Jenderal”. Sekumpulan orang tak di kenal di Luar Sana  “yang tabu untuk di bicarakan “ berhasil memciptakan “Peristiwa Besar dan Berbahaya”.akhirnya, Bapak Megawati ini pun di lengserkan dari kursi Kepresidenan.

Penistaan Agama yang di alamatkan ke Ahok pun, masih dalam kontroversi, mereka tahu, jika Ahok di proses hukum sesuai UU yang berlaku, memakan waktu lama, dari proses penyelidikan, penyidikan sampai proses pengadilan, Aksi 411 pun di gelar,  puluhan ribu Massa pun di undang, dana ratusan miliar pun di cairkan, asalkan tuntutan meraka berhasil. dana berapapun tak masalah, Jokowi  harus dipaksa sebagai Panglima Tertinggi untuk segera mengambil keputusan,   tangkap  dan penjarakan  Ahok  semua urusan selesai, Namun Jokowi mengerti, ia pun menolak, baginya, Ahok harus di proses hukum sesuai UU  yang berlaku. .Beberapa Ulama di undang ke Istana.

Sepintas penolakan di atas melemahkan posisi Jokowi dalam Politik, Pemerintah pun di tuduh lamban menangani kasus ini, apalagi Presiden tidak menemui perwakilan demonstran secara langsung…tapi saya salut,  Jokowi mengerti betul, rencana apa yang akan di lancarkan jika Presiden ada di Istana, Karena,   sekumpulan orang tak di kenal di Luar Sana “yang tabu untuk di bicarakan “ akan menciptakan “Peristiwa Besar dan Berbahaya”. ,Namun Peserta Aksi 411 tidak mau tahu…yang penting kami bisa bertemu presiden dan Ahok harus di hukum,….

Situasi politik Indonesia pun semakin menarik… Ketika tiba-tiba ada tokoh yang merasa tersinggung…Tapi Jokowi, tak peduli, Ia tetap saja Blusukan Politik dengan santai dan tenang. Karena ada indikasi, Sekumpulan orang tak di kenal di Luar Sana “yang tabu untuk di bicarakan “ sedang mengintip dan memantau, mencari kesempatan untuk bergerak serentak…. mencari momen yang pas, untuk memciptakan “Peristiwa Besar dan Berbahaya”.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s