Mengenal Sepak Terjang, Ksatria Kuda Putih, Kiai As’ad Samsul Arifin

 

K H As'ad Samsul Arifin, Sepak Terjang, Sang Pahlawan Nasional 2016

Kiai As’ad Samsul Arifin di kenal sebagai tokoh kharismatik, Di luar ke ulamaannya, Mediator berdirinya NU ini memiliki konsistensi jiwa (Istiqomah) dan semangat kebangsaan yang tinggi, Selama hidupnya, Kiai As’ad berjuang  untuk mengangkat harkat dan martabat bangsa, dari zaman Penjajah, Orde Lama sampai Orde baru, saat perang 10 November meletus pun, ia tak tinggal diam. Oleh sebab itu sepak terjang sang Pahlawan perlu kita ketahui agar perjuangannya, baik sacara politik maupun sosial dapat kita teladani, dan dapat di kenang oleh generasi selanjutnya..

Banyak kisah Perjuangan Kiai As’ad dalam melawan Penjajah yang dapat kita kenang dan kita teladani,  Kiai yang mendapat gelar Pahlawan Nasional ini adalah Komandan Tentara Hizbullah Panarukan. Dalam perang gerilya Kiai As’ad di juluki “Ksatria Kuda Putih”, karena ia selalu menunggangi kuda putih setiap memimpin peperangan. tak hanya itu, Kiai As’ad juga selalu memberi serangan yang membahayakan pasukan musuh, Belanda  pernah menangkapnya, lalu mengasingkanya ke Madura.

Ketika secara tiba-tiba Belanda menyerbu  Pondok Pesantren Sukerejo, Sekitar 10,000 orang yang ada di sana panik dan takut. Namun, di tengah-tengah serangan sengit serdadu Belanda, Dengan waktu yang cukup singkat, Kiai As’ad berhasil mengevakuasi 10.000 rakyat yang tak berdosa . Entah bagaimana caranya, Ksatria Kuda Putih ini berhasil keluar dan menyelamatkan 10.000 rakyat sipil dari kepungan pasukan Belanda. Padahal Belanda melakukan serangan  mendadak itu tidak hanya dengan pasukan darat tapi juga dengan serangan Udara.

Tidak hanya itu,  ketika Belanda mengepung markas tentara, Kiai As’ad datang bersama pasukan Hizbullah, ia terlibat kontak senjata dengan penjajah, Jumlah pasukan dan persenjataan Penjajah lebih lengkap, Lagi-lagi berkat kepandaiannya mengatur siasat, Komandan Tentara Hizbullah ini berhasil memenangkan pertempuran di Bantal, Asembagus. Keberhasilan Kiai As’ad melawan penjajah tidak hanya berhenti di daerah Bantal saja, tapi meluas ke seluruh daerah eks keresidenan Besuki  seperti Jember, Lumajang, Bondowoso dan Situbondo. selain itu Pasukan Kiai As’ad berhasil mencuri senjata di gudang milik Belanda di wilayah, Dabasah, Bondowoso.

Di masa penjajahan jepang, Pahlawan Ksatria Kuda Putih ini juga ikut mengangkat senjata melawan penjajah.. Karena kekurangan senjata dan sekaligus untuk mengurangi kekuatan pasukan jepang. Kiai As’ad berinisiatif mencuri senjata dan amunisi di gudang Jepang, yang berada di Kecamatan Kalisat, Jember. Rencana pencurian ini berhasil dengan baik, Kiai Asad juga terjun langsung memimpin Laskar Pelopor dari Situbondo dan Jember untuk mengusir tentara Jepang di wilayah Garahan (Jember). Dalam suatu perundingan sekitar bulan Agustus 1945, Kiai Asad juga berhasil menggertak tim perundingan Jepang untuk segera meninggalkan Indonesia sehingga mereka bersedia dilucuti senjatanya.

Pada saat pecahnya perang 10 November,  5.000 ribu lebih pasukan perang Inggris mendarat, di susul 24.ooo tentara yang datang secara sembunyi-sembunyi, lalu secara tiba-tiba menggempur Kota Surabaya dari laut, darat, dan udara. Pertempuran sengit ini berlangsung selama 3 minggu. Tentara yang di pimpin Bung Tomo mulai terjepit, dan sangat membutuhkan bantuan pasukan. Mendengar pertempuran di Surabaya yang begitu dahsyat dan tidak seimbang, Kiai As’ad segera bertindak dengan mengirim pasukan Pelopor dan Sabilillah Situbondo ke Surabaya.

Sesampainya di sana pasukan  Pelopor dan Pasukan Sabilillah Situbondo bertempur hebat dengan tentara Inggris di Jembatan Merah. Sedangkan  Kiai As’ad sendiri memimpin pasukan perang menuju Tanjung Perak. Karena Tentara Indonesia juga terlibat kontak senjata dengan Penjajah di sana, Putra Kiai Samsul Arifin ini pun langsung terjun memimpin pasukan menyerang pasukan belanda, Di kisahkan, Kiai As’ad terlibat pertempuran melawan Penjajah ini daerah Surabaya dan Sidoarjo di bawah komando Kolonel Soerodjo anggota TNI. Dalam pertempuran Surabaya ini, Kiai As’ad bermarkas di rumah Kiai Yasin, Blauran IV/25.

Setelah kemerdekaan Kiai As’ad juga berperan dalam dunia politik orde lama, ia pernah bergabung dengan organisasi yang didirikan Bung Karno Syarikat Islam (SI),. Selain itu Kiai As’ad pernah juga menjadi anggota Konstituante (1957-1959). setelah keluar dari konstituante,Pahlawan Nasional ini tak lagi tertarik dengan semua jabatan politik, sekalipun jabatan Rais Am dan Rais Akbar di Nahdlatul Ulama (NU), bahkan ia sama sekali tak tergoda dengan jabatan menteri agama yang di tawarkan Soekarno.

Di Zaman Orde Baru, pada tahun 1982  Kebijakan Pemerintah tentang mata pelajaran PMP menuai banyak kontroversi di kalangan Ormas Islam. Untuk meredam aksi protes yang akan menimbul keributan yang lebih besar, Kiai As’ad berinisiatif menemui Presiden Soeharto ke Istana. Ia menunjukkan beberapa hal yang mestinya dikoreksi. Pemerintahpun menerima saran dari Kiai As’ad dan segera merivisi dan menyempurnakan materi pelajaran PMP yang menimbulkan keresahan Umat Islam tersebut.

Kebijakan Pemerintah Orde Baru yang lain yang juga tak kalah kontroversialnya adalah rencana Presiden Soeharto memberlakukan Pancasila sebagai satu-satunya azas Organisasi Sosial, dan Politik. kalangan ulama Islam resah dan khawatir, mereka curiga Soeharto akan menjadikan Pancasila sebagai Agama Baru di Indonesia. Di tubuh NU sendiri sempat terjadi ketegangan,Kiai As’ad berperan besar dalam memulihkan keutuhan NU dan umat Islam akibat dari kontroversi asas Pancasila ini.

Dengan cepat KH As’ad merespon keresahan ulama dan warga NU, Ia datang ke Istana menemui Presiden secara langsung, dihadiri juga oleh Menteri Agama K.H. Munawir Syadzali. Pertemuan itu berlangsung lebih dari 1 jam, Kepada Presiden, Kiai As’ad menegaskan pendirian NU yang menerima Pancasila.Bahkan Kiai As’ad lebih menegaskan, “Islam wajib menerima Pancasila, dan haram hukumnya bila menolak. Sila pertama itu selaras dengan doktrin tauhid,” Tegas Kiai As’ad..

Dalam mengatasi Polemik di tubuh NU, Peran Tokoh Kharismatik ini cukup besar untuk meyakinkan ulama NU yang menolak Pancasila sebagai asas Organisas, entah bagaimana ceritanya, pada tanggal 18-21 Desember 1983, ratusan Ulama NU tiba-tiba berkumpul untuk mengadakan Musyawarah Nasional (Munas)  di PP Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo. Akhirnya, Munas memutuskan menerima Pancasila dan menganggap  ideologi Pancasila tidak bertentangan dengan aqidah Islam.

Ketegasan dan keberanian Kiai As’ad  membela kesatuan dan persatuan bangsa merupakan sikap yang sangat luar biasa, Ketika terjadi banyak penolakan dari beberapa Ormas Islam terhadap asas Pancasila, dengan lantang ia menerima Pancasila, bahkan memprakarsia Pancasila agar di tetapkan sebagai asas Ormas NU, Akibatnya, Putra Kiai Samsul Arifin ini banyak menerima teror, surat kaleng dan ancaman pembunuhan, namun Putra Kiai Samsul Arifin ini menjalani semua kesulitan dan penderitan itu  dengan penuh kebijaksanaan.

Maka tak heran,  setelah melalui jalan panjang, akhirnya Pemerintah Republik Indonesia, Joko Widodo Presiden RI ke 7 memberikan Gelar Penghargaan Tertinggi kepada Kiai As’ad Syamsul Arifin sebagai Pahlawan Nasional, tepat pada tanggal 10-November-2016.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s