Filosofi Lebaran Ketupat, Tradisi Leluhur Warisan Kanjeng Sunan Kali Jaga

Lebaran Ketupat1Makna Lebaran Ketupat

Tradisi Lebaran yang satu ini mengandung banyak Filosofi dan tentu saja ada Legenda yang menyertainya. Umat Islam yang masih kental dengan tradisi jawa melestarikan lebaran tersebut pada hari ketujuh bulan syawal. Yang secara tradisi di sebut Lebaran Ketupat ( Rioyo Pitu : hari raya ketujuh). Secara tradisi di percaya, Sunan Kalijaga lah tokoh Islam pertama di Jawa yang telah menciptakan tradisi dan memberi dasar Filosofis pada hari raya ketujuh tersebut, Tradisi dan Makna Filosofi ajaran Sang Sunan tetap di pegang teguh sampai saat ini.

Pada awalnya orang jawa penganut ajaran Shiva Budha di jaman Majapahit menggunakan Ketupat sebagai sarana (Bebanten : Bali) untuk ritual pemujaan kepada dewi Sri. Keberadaan Ketupat (Tipat : Bali) sebagai sarana pemujaan warisan majapahit masih bisa dilacak jejaknya di Bali,

Di pulau Dewata, Ketupat dipersembahkan sebagai sesajian uborampe upacara, mereka menggabungkan antara agama Hindu dan budaya Jawa, daun kulit kelapa yang masih muda di bentuk beraneka ragam sebagai simbol ritual persembahyangan yang memiliki makna filosofis yang cukup dalam.

Ketupat sebagai Simbol kehidupan, kekayaan dan kemakmuran yang sebelumnya sudah dikenal oleh masyarakat jawa tersebut turut menjadi salah satu menu makanan dalam perayaan lebaran umat Islam di Demak. Kemudian Kerajaan Demak menjadikan Ketupat ini sebagai sarana komunikasi massa untuk menyampaikan nilai-nilai Islam kepada rakyat Demak.

Untuk itu Sunan Kalijaga membingkai Ulang Makna Ketupat dan mengubah sudut pandang masyarakat jawa terhadap Tradisi Pemujaan kepada Dewi Sri sesuai dengan Konteks Agama dan nilai nilai Islam. Selain itu, Dalam Piwulangnya, Sunan Bonang guru dari Sunan Kalijaga, juga melakukan penafsiran baru (redefinisi) terkait istilah Ketupat,

Menurut Sunan Bonang, Ketupat atau Kupat sebagai singkatan dari laku sing papat atau empat keadaan yang dianugerahkan oleh Tuhan kepada orang yang berpuasa dengan keikhlasan dan kesungguhan. Yaitu: lebar, lebur, luber, dan labur.

Lebar berarti telah menyelesaikan puasanya dengan melegakan. Lebur berarti terhapus semua dosa yang dilakukan di masa lalu, Luber berarti melimpah ruah pahala amal-amalnya. Dan Labur berarti bersih dan bercahaya wajah dan hatinya.

Laku Sing Papat istilah yang di populerkan oleh Sunan Bonang di atas.pada dasarnya sudah menjadi ajaran masyarakat jawa sebelum memeluk Islam, Ajaran Laku Sing Papat ini di kenal dengan istilah Catur Bratha ( Empat Laku Prihatin : Laku Sing Papat) dalam ajaran Hindu , Rakyat Majapahit penganut Shiva Budha tentunya sudah mengamalkan laku sing papat versi hindu lebih dulu sebelum mereka memeluk ajaran sang Sunan. Mereka melakukan Catur Bratha tersebut untuk menyambut Hari Raya Hindu.

Janur Kuning Pembungkus Beras yang menjadi ciri makanan Ketupat juga tak luput dari upaya redefinisi, Janur di artikan sebagai Sejatinung Nur, yaitu Cahaya Sejati. Sebagai perwujudan sifat Maha Pengasih dan Penyayang untuk mengganti istilah Dewi Sri, yang di yakini masyarakat Jawa waktu itu sabagai manifestasi dewi kesuburan dan kemakmuran, yang mempunyai sifat Welas Asih dan Penyayang.

Dari sumber Hindu, kita mendapatkan informasi, Ketupat sudah ada di Nusantara jauh sebelum Islam resmi menjadi agama pemerintahan Demak. Namun Lebaran Ketupat yang di lakukan di hari ke tujuh bulan syawal merupakan salah satu Tradisi Lebaran Idul Fitri yang unik dan kreatif, Tradisi ini hanya ada dan di lestarikan di jawa sebab Masyarakat percaya bahwa Lebaran Ketupat ini Filosofi dan Maknanya di gagas sendiri oleh Kanjeng Sunan Kali Jaga,

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s