Legenda Putroe Neng, Komandan Perang Tiongkok

Nian Nio lian khie, Putroe NengSejarah Putroe Neng Raja Seudu Sumatera.

Putro Neng merupakan nama panggilan yang di berikan oleh kerajaan Lamiri kepada  Nian Nio Lian Khie,  setelah ayahnya, laksamana Liang khi meninggal perempuan cantik ini melanjutkan kepemerintahan kerajaan Seudu di Sumatera.

Sekitar abad ke 11 Tiongkok melakukan penyerangan ke kerajaan kecil Sumatera.  Kemungkinan Pasukan Tiongkok yang menyerang Sumatera ini berasal dari  Dinasti Liao Barat. Salah satu Dinasti Tiongkok yang yang didirikan oleh bangsa Khitan (916 – 1125 Masehi) . Bangsa ini merupakan bagian dari kelompok besar penutur bahasa Turk dan Altaik dari Asia Tengah.

Masyarakat Thionghoa menyebut Kekasisaran Dinasti Liao Barat sebagai   Kekhanan Kara-Khitan atau Kekhanan Qara-Khitai.  Banyak pemimpin bangsa Khitan merupakan perempuan. Mereka menggunakan bahasa Tiongkok , kalender Tiongkok, dan koin Tiongkok. Selain itu mereka juga merupakan penganut agama Buddha.

Penyerangan  pertama Laksamana Liang Khi berhasil menguasai kerajaan Indra Jaya /Lhok Seudue. ibu kotanya Panton Bie, luas negeri Seudue  terbentang dari  Lhok Onga sampai ke daerah  Kuala O Nga (Negeri Daya ),

Kemudian Liang Khi mendirikan markas militer di sebuah wilayah. yang kemudian daerah ini di kenal dengan nama ‘kuta Lingke’. Nama ‘kuta Lingke’ ini berasal dari nama  Laksamana Liang Khie/Lion Khie.

Pantai Lhok_Nga_Liang Khi, memberikan kekuasaan wilayah Kuala O Nga  kepada saudaranya yang bernama Phong Khi/ Puengki . Entah… apakah nama itu ada hubungannya dengan sungai Lhok Krueng Puengki di Aceh..?? hanya orang aceh yang tahu….

Menurut Legenda, Liang Khi berkuasa di daerah serambi mekah ini selama beberapa generasi, setelah dia menghadap langit, Nian Nio Lian Khie melanjutkan kepemerintahannya. putrinya ini terkenal cantik dan juga sadis. Ia di sebut sebagai Putroe Neng  Raja Seudo.

Entah kenapa wilayah  kekuasaan Liang Khi di sumatera ini di kenal dengan nama kerajaan Seudu. Saya sempat bertanya-tanya, Kenapa ia menyebut dirinya sebagai Raja Seudu, apakah ada hubungannya dengan dinasti Liang Shidu.

Liang Shidu adalah perwira militer yang memimpin pemberontakan petani pada akhir Dinasti Sui. Ia mengangkat dirinya sebagai Kaisar Liang dan menjalin persekutuan dengan  suku Turki pengembara, yang di kenal dengan julukan  suku Tujue Timur.

Dengan bantuan Tujue Timur,Liang Shidu berhasil menguasai wilayah utara Shaanxi dan barat Mongolia Dalam selama lebih dari satu dekade. Ia adalah rezim separatis terakhir yang masih bertahan setelah Dinasti Tang. ia berhasil  menaklukan pesaing lainnya dan mempersatukan hampir seluruh Tiongkok.

Saya sempat agak  pusing mencari hubungan kedua nama ini sebab Liang Shidu hidup di abad ke 6 masehi, Sedangkan Liang Khie menguasai kerajaan Indra Jaya /Lhok Seudue sekitar abad ke 11. Dari pada saya pusing menghubungkan istilah Liang Shidu dengan  Kerajaan Seudo di Aceh, lebih baik masalah ini saya serahkan ke ahli sejarah…Kita kembali ke kisah Putroe Neng,

Menurut Kisah Aceh, Pada masa Putroe Neng berkuasa ketegangan politik antara Negeri Seudu dengan Kerajaan Indra Purba atau Lamuri Semakin Parah, Konon, Perempuan yang bersuami 100 ini membuat kebijakan-kebijakan yang semakin menyengsarakan kehidupan rakyat Indra Jaya.

Semakin hari suhu politik kedua negeri itu semakin panas. Desas desus Putro Neng akan memperluas kerajaannya menjadi topik hangat dalam rapat dinas kerajaan Indra Purwa. Maharaja Indra sakti penguasa Indra Purwa dan pihak istana negara merasa terancam.

Benteng pertahanan Indra Purwa di wilayah Mampreh pun di perkuat. Saat itu, komunitas muslim pimpinan Syeh Abdullah Kan-an tepat berada di wilayah tersebut. Mereka berdomisili di wilayah itu  atas izin Maharaja Indra Sakti.

Putroe Neng sudah lama menyusun strategi dan taktik untuk segera melakukan penyerangan dan merebut benteng pertahanan Indra Purwa, Invasi pun di laksanakan,  Berkat kepandaiannya menyusun strategi dan taktik perang Raja Seodu ini berhasil merebut wilayah Mampreh.

Setelah wilayah Mampreh, tempat komunitas muslim itu di rampas. Syeh Abdullah Kan-an bertanggung jawab untuk membela dan merebut kembali daerah itu.  Untuk mengusir pasukan  Putroe Neng dari Mampreh. Ulama persia itu mengusulkan  kepada Maharaja Indra sakti,  ia meminta agar Sang raja  segera mengirim surat permohonan bantuan pasukan ke kerajaan Islam di Peurlak.

Raja Indra Purwa segera mengadakan rapat Dinas bersama para panglima kerajaan di istana negara. Setelah tercapai kesepakatan dengan bawahaanya, Raja itu pun merestui meminta bantuan ke kerajaan Peurlak.

Tentara koalisi kedua kerajaan beda ideologi ini pun di bentuk,  Syekh Abdullah Kana’an menyusun rencana penyerbuan dan penyerangan balasan. Semua pasukan di persiapan dengan matang. Formasi pasukan koalisi dan tahapan penyerangan di rancang dengan sistematis.

Takdir tidak bisa  di rubah malapetaka tidak bisa di hindari. Dalam peperangan ini Putroe Neng/Niang Lion Khie bersama Pasukannya berhasil di usir dari daerah mampreh. Daerah Indra Purwa pun kemudian berhasil direbut kembali oleh pasukan koalisi.

Selanjutnya Syekh Abdullah Kana’an mengatur strategi dan taktik untuk segera melakukan penyerangan ke jantung pertahanan kerajaan Seudo.  Pertahanan terkuat Putre Neng adalah markas militer Tiongkok yang terletak di kuta Lingke atau Jeulingke.

Meurah Johan menjadi panglima perang dalam misi ini. Sebelum melakukan penyerangan sebuah Informasi penting  dari intelegen pasukan Islam sampai ke Syeh Abdullah Kan-an. Ternyata Putroe Neng  saat itu sedang menderita penyakit Kronis yang  sulit di di sembuhkan.

Mengetahui kabar tersebut, Pempinan pasukan Islam itu pun melakukan penawaran politis. Ia bersedia melakukan tindakan penyembuhan atas penyakit kronis yang di derita perempuan cantik asal  Tiongkok itu.

Setelah terjadi kesepakatan, Misi penyembuhan pun dilaksanakan. Konon, Secara sembunyi sembunyi, Syeh Abdullah Kan-an membawa Putroe Neng ke laut dengan sebuah perahu antara Pulau Weh Sabang dengan Pulau Aceh sekarang.

Pulau Weh adalah pulau vulkanik kecil yang terletak di barat laut Pulau Sumatra.  Sampai saat ini masih terdapat beberapa orang penganut Buddha di pulau ini. Mereka kebanyakan bersuku Jawa, Batak, dan Tionghoa. Saya rasa …paragraph ini hanya informasi dan sama sekali tidak ada hubunganya dengan misi penyembuhan Syeh Abdullah Kan-an.

Proses penyembuhan dan metode yang di gunakan Syeh Abdullah Kan-an cukup unik, Konon,  Tokoh ini memberikan ramuan obat, tentu bukan ramuan sembarangan, mungkin obat herbal ini sudah melalui proses Ruqyah Syariyah,

Siang hari di bawah terik matahari, Syeh Abdullah Kan-an menjemur Putroe Neng  di tengah laut, setelah meminum obat herbal itu ia mengalami keanehan, tiba-tiba ia muntah, mulutnya mengeluarkan sesuatu yang misterius . tak lama kemudian Ia merasa tubuhnya segar dan sehat. Mungkin ini suatu Anugerah Ilahi  atas kekuatan Doa.

Peristiwa ini membuat Putroe Neng merubah pandangan hidupnya. ia bersedia menganut ajaran islam. Setelah Nian Nio Liang Khi memeluk Islam, banyak pengikut Nian Nio Liang Khi yang tidak kembali ke Negeri Seudu (Lhokseudue). Mereka yang sudah menyatakan keislamannya lebih memilih tinggal dalam istana di benteng Lingke.

Setelah terjadi kesepakatan damai antar negeri seudu dan Indra purwa,   Maharaja Indra Sakti, menikahkan putrinya yang bernama Putroe Blieng Indra keusuma dengan Meurah Johan. Tak lama kemudian, atas persetujuan Maharaja Indra Sakti, Meurah Johan menikah pula dengan Nian Nio Liang Khi.

Akhirnya kedua kerajaan ini resmi bersatu dan menganut ajaran Islam.  maka pada hari Jum’at tanggal 1 Muharram tahun 601 H/1205 M, kerajaan Indra Purba pun diproklamirkan menjadi kerajaan Islam dengan nama Darussalam.

Saat itulah Meurah Johan diangkat sebagai raja pertama dengan gelar Sultan Alaiddin Johansyah dan Nio Nian  Liangke penguasa kerjaan Seodu itu di beri gelar Putre Neng.


Menguak Misteri Legenda Putroe Neng Bersuami 100

Legenda adalah cerita prosa rakyat yang dianggap oleh yang mempunyai cerita sebagai sesuatu yang benar-benar terjadi. karena legenda aceh ini tidak tertulis, maka kisah Putroe Neng Bersuami 100 tersebut telah mengalami distorsi sehingga sering kali jauh berbeda dengan kisah aslinya.

Legenda ini memiliki latar perang Kerajaan Lamuri melawan Tiongkok. Dimana Pasukan Tiongkok berperan sebagai Bangsa penjajah sedangkan Kerajaan kecil sumatera berposisi sebagai obyek jajahan. Biasanya posisi kaum terjajah menjadi inferior, sedangkan kaum penjajah menjadi superior.

Dalam penjajahan tidak hanya terjadi penaklukan fisik, namun juga penaklukan  pikiran, jiwa, dan budaya. terutama tindakan sadis dan brutal kepada tahanan perang. Tak jarang di antara tahanan perang perempuan yang mati mengenaskan setelah menjadi budak seks.

Di masa lalu,  Tahanan perang benar-benar diperlakukan dengan tidak manusiawi apalagi wanita. Bahkan ada pepatah mengatakan  menjadi tahanan perang wanita sama artinya sudah mati. Kita ambil contoh saja di zaman Dinasti Chun Qiu (770-476 SM) dan Dinasti Han (206 SM-220)

Pada masa Dinasti Chun Qiu, Raja Yue Goujian menempatkan janda-janda prajurit di Dufushan (Gunung Janda), mereka kemudian dijadikan pemuas hasrat bagi prajurit-prajuritnya. Ide Gojian ini disebut sebagai cikal bekal Yingji (Budak Seks di barak militer).

Di Dinasti Han, Kaisar Han Wudi menata ulang konsep Yingji di barak militer.  Janda-janda Prajurit di Dufushan (Gunung Janda), ditugaskan untuk melayani prajuritnya yang sedang berperang melawan Bangsa Xiongnu (Bangsa Hun).

Di pereode  Utara & Selatan (386-589), Kerajaan Wei Utara (386-534) memperkenalkan institusi Yuehu 乐户 (keluarga pemusik). Mereka adalah keluarga narapidana politik, kriminil & tawanan perang yg dihukum menjadi penghibur secara turun temurun. Sistem Yuehu juga dikenal sebagai Yueji 乐籍 (register pemusik).

Lalu apa hubungannya dengan legenda Putroe Neng, Tentu saja ada, Setiap perang pasti ada logika yang sama, bagaimana sebuah bangsa memperlakukan Tahanan Perang. Sebagaimana di kisahkan, Pasukan Tiongkok di pimpin oleh panglima perang perempuan.  bahkan pasukannya banyak terdiri dari prajurit perempuan.

Jika Pasukan Tiongkok kalah dalam perang,  semua pasukan perempuan akan menjadi tawanan perang, mereka akan dibagi-bagikan kepada kalangan prajurit  sebagai Budak.  Tentu saja saya tidak perlu menggambarkan, Apa yang akan di lakukan seorang pria jika mempunyai tahanan perang atau budak perempuan cantik asal Tiongkok.

Banyak Sejarah juga mencatat kisah tragedi perang, misalnya peristiwa pembantaian dan pemerkosaan oleh serdadu Jepang yang terjadi selama enam minggu sejak 13 Desember 1937.  Peristiwa pahit itu masih dikenang warga Nanking  sampai sekarang saat Jepang menjajah China.

Dalam History Place disebutkan, tentara Jepang memerkosa perempuan dari usia delapan hingga 70 tahun. Lebih dari 20 ribu perempuan diperkosa bersama lalu dibunuh menggunakan bayonet.

Juga seperti yang terjadi di era modern baru-baru ini,  Pemerkosaan sistematis bagi para aktivis perempuan muslim di suriah. Menurut Om Ahmed di kutip dari Zaman Alwasl “Rezim Syuriah  yang ber aliran Syiah, membakar tubuh para aktivis perempuan Islam Sunni di suriah  dengan tiang panas, menggantungnya selama berjam-jam secara teratur setiap harinya,” sebagaimana di lansir situs arrahmah.com (2015/03/03).

Dalam keadaan “perang total”,  Kerajaan atau negara manapun akan memaksimalkan seluruh kemampuan ekonomi, industri, dan ilmiahnya untuk keperluan perang, sehingga menghapus perbedaan antara sumber daya sipil dan militer.

Situasi ini biasanya ditandai oleh sejumlah peristiwa penting yang melibatkan kematian massal rakyat tak berdosa.

Kita kembali ke kisah Putroe Neng bersuami 100, Kabar tentang kecantikan komandan perempuan Tiongkok menjadi motivasi tersendiri bagi banyak prajurit kerajaan Lamuri, mereka  bersedia maju di medan tempur.

Berangkat perang melawan pasukan Tiongkok  yang menjajah kedaulatan rakyat Lamuri merupakan kebanggaan tersendiri . Siapa yang terpilih menjadi panglima perang untuk  melawan Tiongkok harus siap mati atau hidup sebagai Tahanan Perang.

Logikanya sudah jelas, Kekalahan Penjajah Tiongkok akan menjadikan semua Pasukannya  berstatus sebagai tahanan perang, Kerajaan kecil sumatera  akan dapat memperbudak pasukan perempuan Tiongkok atau bahkan memperistri salah satu dari mereka.

Banyak panglima perang yang ikut dalam kompetisi ini dan semuanya berakhir dengan Maut. Menyebarnya Kabar Kematian Prajurit di medan perang dan mati sebagai Tahanan  tidak menyurutkan niat Para panglima perang dari Lamuri dan juga dari kerajaan tetangga untuk maju ke melawan penjajah Tiongkok.

Ada kemungkinan Panglima perang Tiongkok melakukan aksi sadis terhadap tahanan Perang dari kerajaan Lamuri.  Misalnya, Nian Nio Lian Khie panglima perang yang cantik itu memotong alat kelamin Pria yang menjadi Panglima Perang pasukan Kerajaan kecil di Sumatera.

Aksi memotong kepala, tangan dan kemaluan dalam perang ini sudah biasa. Sebagai ungkapan kekesalan dan juga kebanggaan. Bahkan ada sebuah tradisi di mana prestasi seorng panglima perang  di ukur dari seberapa banyak ia telah memotong kepala musuhnya. Biasanya kepala musuh ini akan di kirim kepada raja/kaisar untuk membuktikan kesuksesannya.

Alat kelamin laki-laki merupakan simbol Pedang atau keperkasaan. Memotong Kepala atau kemaluan Panglima perang adalah simbol kemenangan Pasukan perempuan Nian Nio Lian Khie atau Niang Lion Khie, sekaligus merupakan penghinaan terhadap lemahnya prajurit kerajaan Lamuri.

Dalam Sejarah Kekaisaran Tiongkok Kuno, tercatat ada 16 Hukuman Sadis, di antaranya adalah mengebiri dan menguliti tubuh tawanan perang. Sima Qian pernah menerima hukuman ini sebelum menuliskan kitab sejarah (Shi Ji). Hukuman ini mereka lakukan dengan mengikat alat kelamin pria agar darah tidak dapat mengalir, sampai rusak secara alami, baru kemudian dipotong dengan pisau.

Atau juga hal sadis itu di lakukan sebagai aksi balas dendam, atas perlakuan Kerajaan kecil sumatera terhadap tahanan perang wanita yang berasal dari pasukan Tiongkok.  aksi saling tahan menahan dalam perang sudah lumrah terjadi berikut perlakuan kejahatan seksual terhadap tahanan perang.

Kerajaan Lamuri sebagai bangsa terjajah pasti mengalami stress berat, karena merasa di lecehkan oleh penjajah Tiongkok. Misalkan saja, menyebarnya  isu teror yang ditiupkan oleh pasukan Tiongkok kepada prajurit Lamuri bahwa Nian Nio Liang Khie panglima perang Tiongkok itu seorang perempuan cantik dan perkasa ‘pemakan’ kemaluan laki-laki.

Secara tak langsung isu sadis membuat kerajaan-kerajaan kecil Sumatera akan semakin gerah.  Menurut legenda Aceh, di ceritakan Sebanyak 99 laki-laki yang menjadi suaminya telah menjadi korban keganasan perempuan ini.

Dalam novel yang berjudul “Tatkala Malam Pertama Menjadi Malam Terakhir Bagi 99 Lelaki”, Ayi Jufridar mengungkap kisah percintaan Putroe Neng dengan 100 lelaki yang pernah menjadi suaminya.

Padahal, Sejarah mencatat Nian Nio Liang Khie menjadi muslim setelah menikah dengan Meurah Johan, sekaligus  merupakan suami pertamanya. Sebagai seorang muslimah Putroe Neng perlu menunggu masa iddah selama 3 bulan setelah kematian suaminya.

Atas dasar itu, untuk wanita muslim kemungkinan hanya akan ada 2 kali pernikahan dalam satu tahun. Untuk mencapai angka 100 suami atau 100 kali pernikahan,  perlu waktu 50 tahun, jika di asumsikan Putroe Neng menikah dengan Meurah Johan usia 20 tahun, lalu kapan ia menikah dengan suami yang terakhir..???

Kita bisa membayangkan. Pada usia berapa Putroe Neng menikah dengan Syiah Hudam suami yang ke 100 itu..? Jika kita hitung 20 di tambah 50 artinya Syiah Hudam menikahi Putroe Neng pada saat perempuan Tiongkok itu berumur 70 tahun….kecuali menikah dengan Tradisi Mut’ah sebagaimana di bolehkan menurut Islam Syiah.

Atau apakah tidak mungkin Julukan Putre Neng identik dengan Julukan Hareem pada budak perempuan dalam Tradisi kerajaan Islam Turki. Atau apakah juga  tidak mungkin Istilah ini sinonim dengan Yingji (Budak seks di barak militer) atau Yuehu 乐户 (keluarga pemusik).

Mereka semua adalah keluarga narapidana politik, kriminil & tawanan perang Tiongkok yg dihukum menjadi penghibur secara turun temurun di zaman dinasti Tiongkok.


syekh-hudamKisah Racun Ganas “PUTROE NENG”.

Menurut Legenda, Nian Nio Lian Khi memutuskan untuk menjalani pernikahan politik, perempuan cantik ini rela menjadi istri Meurah Johan Pendiri Kerajaan Darud Donya Aceh Darussalam. sekaligus bersedia mengikuti keyakinan suaminya menganut ajaran Islam, lalu Panglima perang tiongkok ini mendapat gelar PUTROE NENG.

Keputusan Putroe Neng bersedia menikah ini merupakan pilihan strategis untuk menyelamatkan pasukan dari penyiksaan kerajaan Lamuri di sel tahanan. Dari pada menjadi budak seks atau tawanan perang, menikah dengan pendiri kerajaan Aceh adalah jalan satu-satunya yang harus di pilih sebagai siasat perang.

Namun, Pernikahan politik ini berakhir tragis. Pendiri kerajaan Darud Donya Aceh Darussalam ini di temukan tak bernyawa di atas ranjang saat malam pertama. Tubuh terbujur kaku dan kulitnya berubah membiru akibat racun ganas dan mematikan.

Menurut legenda, Racun itu adalah sebuah mantra sihir yang dipasang di daerah kewanitaan Nian Nio lian khie.  Racun sihir ganas itu di pasang  oleh neneknya, yang bernama Khie Nai-nai saat Putroe Neng masih remaja.

Pemasangan Mantera Ghaib terhadap anak gadis pada organ kewanitaannya merupakan upaya untuk melindungi diri,  Perisai diri semacam ini banyak sekali di lakukan para putri kerajaan dan prajurit perempuan,  Terutama saat situasi negara dalam kondisi perang atau di jajah.

Ancaman pemerkosaan dan tindakan sadis terhadap perempuan di segela umur di masa perang menjadi alasan untuk menggunakan mantera sihir pelindung. Semua ini di lakukan untuk tetap menjaga keperawanan para gadis. Apalagi jika gadis tersebut menjadi seorang perwira atau Panglima Perang perempuan,

Dalam situasi yang tidak menguntungkan resiko menjadi tahanan perang dan di jadikan budak seks bagi prajurit perempuan sudah menjadi hal yang biasa di masa lalu bahkan Tragedi kejahatan perang terhadap tawanan perempuan masih berlanjut hingga abab ini.

Racun Ganas ini mengingatkan saya pada “Racun Cetik” di Bali, Teknik pembuatan dan Matera sihir Racun Cetik tertulis dalam Lontar Budha.  Entahlah…apa yang sebenarnya terjadi,.

Namun yang jelas, kemenangan Kerajaan Lamure di Kuta Lingke tidak membuat Putroe Neng takluk lahir batin. kematian pengeran Aceh ini membuat Kerajaan Lamuri menjadi kehilangan pemimpin.  Situasi ini membuat Pihak Istana Lamuri segera  meminta bantuan ke kerajaan Islam di Peureulak.

Menurut Legenda,  Syekh Abdullah Kana’an atau Syiah Hudam adalah suami terakhir Putroe Neng.  dia mampu menetralisir pengaruh Mantera Ghaib yang di pasang nenek  Nian Nio Liang Khie di organ kewanitaannya.

Dengan mudah Syiah Hudam mengeluarkan aura mistis racun sihir di alat vital istrinya. lalu memasukkan ke dalam bambu, kemudian membelahnya menjadi  dua bagian. Satu bagian dibuang ke laut, dan bagian lainnya dibuang ke gunung.

Setelah pengaruh Mantera Ghaib tersebut dapat di netralisir, lambat laun aura kecantikan Putroe Neng berangsur-angsur menghilang. Namun efek negatif dari keganasan mantera sihir tetap berlanjut. ia tetap tidak bisa hamil .

Iklan

2 thoughts on “Legenda Putroe Neng, Komandan Perang Tiongkok”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s