Kisah Munculnya Hewan Korban, di Idul Adha

sejarah idul adhaHari “Idul Adha”

Idul Adha adalah Hari raya Islam yang di peringati pada tanggal 10 Dzulhijjah setiap tahunnya. Tahun 2015 sebagian besar umat Islam sedunia memperingati hari raya ritual pengorbanan idul Adha  pada hari Kamis, 24 September 2015.

Pada tanggal 10 Bulan Duljihah, ada kisah dramatis peristiwa pengorbanan yang cukup tinggi dan agung. Peristiwa bersejarah dalam sebuah bangsa dan agama tentu saja mendapat tempat dalam kalender yang di gunakan.

Maka, dalam sistem kalender hijriah yang terdiri dari dua belas bulan, ditetapkan tanggal khusus  tiap tahun untuk melakukan upacara religius, Dari ritual Puasa Ramadhan, Idul Fitri dan berujung pada Idul Adha, yaitu  hari raya ritual pengorbanan.

Idul adha adalah momen yang memberikan makna dan pengertian berupa nilai-nilai keimanan dan ketakwaan. Ini adalah bulan khusus untuk memperingati kisah pengorbanan manusia. Korban yang di persembahkan adalah anaknya sendiri untuk mencari keridhoan Ilahi (Tuhan yang di sembah).

Sebagai bukti keyakinan dan kepasrahannya serta ketundukan total  kepada pemegang Otoritas tertinggi di Jagad Raya. Perintah Tuhan  harus menjadi prioritas utama di atas perintah semua penguasa yang ada di dunia.


Mummi pengorbanan seorang GadisTradisi Pengorbanan Manusia

Anak-anak Suku Inca Dikorbankan Untuk Masuk ke Dunia Para Dewa, Gambar di samping merupakan Mummi ritual pengorbanan suku Inca yang berusia 500 tahun.

Suku Inca menempuh pengorbanan manusia untuk para dewa, khususnya pengorbanan anak-anak mereka, sebagai cara untuk mencegah bencana alam. Suku Inca mengalami berbagai bencana alam, termasuk letusan gunung berapi, gempa bumi dan banjir. Suku Inca percaya bahwa bencana alam dikuasai oleh para dewa, dan nikmat itu perlu diperoleh melalui pengorbanan.

Suku Aztec juga melakukan pengorbanan manusia yang brutal dan mengerikan dari kedua relawan dan anggota suku-suku lain yang ditangkap selama perang. Dalam satu jenis ritual, korban akan disuruh berjalan menaiki tangga candi.

Ketika korban mencapai puncak, sang pemimpin akan membuka perut mereka, memotong dari tenggorokan mereka ke perut mereka. Pemimpin kemudian akan menawarkan hati untuk para dewa, sementara tubuh akan dipotong-potong di bagian bawah candi.


ajakan+nabi+ibrahimKisah Pengorbanan Ibrahim

Kisah Ibrahim, Berbeda dengan tradisi persembahan Suku aztek, Mereka melakukan ritual pengorbanan untuk  mengingat dewa Coatlicue dan Tlaloc sebagai dewa hujan dan kesuburan. Meskipun Suku Aztec juga memilih korban  anak-anak sebagai persembahan.

Dalam tradisi suku Aztec korban yang terpilih dibuat menangis lebih dahulu sebelum dicabut jantung dan dikuliti tubuhya. Perintah pengorbanan manusia pada suku ini tidak berdasarkan petunjuk Tuhan akan tetapi merupakan bentuk penghormatan pada makhluk halus yang di percaya sebagai Dewa.

Ibrahim adalah citra pribadi  yang sempurna (Insan Kamil) dalam sejarah umat manusia. kisah ini di imulai dari proses pencarian Tuhan  (Monoteisme). Ibrahim berhasil mencapai KEBENARAN dari Hakekat Ketuhanan.

Di jaman manusia masih tenggelam dalam Ilusi persembahan dan pengorbanan pada banyak dewa. Ibrohim bangkit menjadi pelopor (Imam Monoteisme) penyebaran keyakinan untuk hanya menyembah Tuhan Monoteisme sebagai satu-satunya jalan kebenaran sekalipun ia harus berhadapan dengan penguasa.

Nabi Ibrahim memiliki kekayaan di atas rata-rata penduduk di zamannya. Penikahannya dengan putri bangsawan, yang bernama Sarah, membuatnya memiliki beberapa fasilitas mewah dan kehidupan ekonomi yang mapan.

Kehidupan serba mewah dan tingginya tingkat kekayaan seseorang cendrung menjadi batu sandungan yang cukup besar untuk melakanakan kewajiban ketuhanan. Tapi tidak bagi Ibrahim.

Setiap tahun, ibrahim mengeluarkan harta kekayaanya berupa hewan ternak. ia mengeluarkan 1.000 ekor domba, 300 ekor sapi, dan 100 ekor unta sebagai korban. Semua ini ia lakukan untuk mengabdi dan menghormati “Dia Yang Maha Agung dan Perkasa, Yang Menghidupkan dan Yang Mematikan“.

Sesuai tradisi masyarakat setempat, semua hewan korban itu di sembelih lalu di bagikan kepada masyarakat tanpa melihat status sosial, baik orang kaya maupun miskin pasti akan mendapatkan jatah daging yang di bagikan oleh keluarga Ibrahim.

Pengorbanan harta benda berupa hewan ternak tidak seberapa bagi Ibrahim, bahkan jika ia mempunyai anak, demi pengabdiannya terhadap Tuhannya, Jiwa anaknya pun akan di korbankannya sebagai bentuk persembahan kepada “Yang Kuasa dan Yang Menciptakan” sebab “Semua yang berawal dari Nya dan Semua akan  kembali kepada Nya”

Kurban sebanyak itu bagiku belum apa-apa. Demi Allah! Seandainya aku memiliki anak lelaki, pasti akan aku kurbankan juga kepada-Nya,” kata Ibrahim, sebagai ungkapan penyerahan diri dan  pengabdian hamba yang total kepada TuhanNya.

Namun, menginjak usianya yang ke 99 tahun, satu hal yang belum ia miliki, yaitu Keturunan. Anak adalah lambang keberhasilan dan kesuksesan seorang ayah, anak adalah Harta yang cukup bernilai sebab melalui seorang anaklah manusia bisa melanjutkan keturunan. Satu gudang emas, 1000 ekor unta dan sapi tidak bisa di bandingkan dengan satu orang anak.

Menyadari hal ini Sarah sebagai seorang istri yang belum bisa memberikan keturunan, menyarankan Ibrahim agar menikah dengan wanita pelayan bernama Hajar,

Menurut kitab Qishash al Anbiya karya Ibnu Katsir. Wanita ini seorang putri bangsa Qibthi. raja Maghreb, leluhur dari para nabi-nabi dalam Islam. Dalam sebuah peperangan, Ayahnya  yang bernama Dhu l-‘arsh  meninggal  secara ksatria di tangan Raja Mesir .

Sesuai aturan perang semua keluarga Raja  Dhu l-‘arsh di jadikan budak. termasuk Hajar. Di mesir meskipun ia berstatus budak, namun putri Qipty ini di perlakukan dengan hormat, ia mendapat hak istimewa bisa leluasa masuk dalam lingkaran Istana Kerajaan Mesir. Raja Mesir sengaja menghadiahkan Hajar sebagai hadiah untuk di jadikan istri kepada Ibrahim.

Hasil pernikahan Ibrahim dengan Hajar di karuniai seorang putra,  Saat inilah detik-detik pembuktian cinta dan ketakwaan kepada Tuhan memasuki ujian akhir.  Tingkat ketakwaan dan kecintaan seseorang terhadap Tuhan akan di ukur seberapa ringan dia mampu lepas dari kemelekatan terhadap harta, tahta, dan keluarga.

Harta yang selama ini di tunggu kehadirannya telah datang di usianya yang sudah senja, berupa seorang putra, yang bernama Ismail. Seorang anak yang tampan dan gagah. kelak ia yang akan meneruskan kepemimpinan ayahnya membawa manusia keluar dari kegelapan untuk menyembah hanya kapada Tuhan Ibrahim saja.

Ketika usia Ismail menginjak kira-kira 13 tahun, pada malam tarwiyah, hari ke-8 di bulan Dzulhijjah.  Nabi Ibrahim AS mendengar seruan, “Hai Ibrahim! Penuhilah janjimu”.

Sabuah janji yang pernah di ucapkan Ibrohim saat ia masih belum punya keturunan.  Ibrahim pernah berkata “Demi Allah! Seandainya aku memiliki anak lelaki, pasti akan aku kurbankan juga kepada-Nya,” Suara yang terdengar di malam itu mengingatkan janji Ibrahim kepada Nya. Janji seorang hamba kepada TuhanNya.

Pada malam ke 2 tanggal-9  Dzulhijjah, Suara itu datang lagi,  “Hai Ibrahim! Penuhilah janjimu”.  Pagi harinya, Ibrahim menyadari dan meyakini seruan ini benar benar datang langsung dari Tuhannya.

Dari kisah inilah hari ke-9 Dzulhijjah ini di kenal dengan nama hari ‘Arafah yang artinya mengetahui, dan tanah tempat beliau berdiri pada waktu itu sekarang di kenal dengan nama juga Padang  Arafah.


 

Munculnya Korban Pengganti Putra Ibrahim

Pada malam ketiga itu,  suara seruan itu terngiang-ngiang di telinga Ibrahim, “Sesungguhnya Tuhan memerintahkanmu agar mengorbankan putramu, Ismail.” Beliau terbangun seketika, langsung memeluk Ismail dan menangis.

Setelah Matahari mulai terbit di pagi hari, Ayah Ismail ini bertekad untuk melaksanakan janjinya. Karena itulah, hari ke 10 bulan Dulhijah disebut dengan hari menyembelih kurban (yaumun nahr).

Ketika Iblis hendak merayu dan menggoda, di kisahkan Ismail memungut sejumlah kerikil ditanah lalu melemparkan kerikil itu ke arah Iblis hingga mata sebelah kirinya buta. Maka, Iblis pun pergi dengan tangan hampa. Dari sinilah kemudian dikenal dengan kewajiban untuk melempar kerikil (Jumratul Aqobah) dalam ritual ibadah haji.

Di riwayatkan, setelah sampai di lembah Mina, Nabi Ibrahim AS berterus terang kepada putranya, “Wahai anakku! Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu?…” (QS. Ash-Shâffât, [37]: 102).

Ia (Ismail) menjawab, ‘Hai bapakku! Kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, Insya Allah! Kamu mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar” (QS. Ash-Shâffât, [37]: 102).

Mendengar jawaban putranya, legalah Nabi Ibrahim AS dan langsung mengucapkan rasa syukur kepada Tuhan. yaitu bertahmid dengan kalimat Alhamdulillâh sebanyak-banyaknya.

Nabi Ibrahim as melepaskan ikatan tangan dan kaki putranya, lalu beliau hadapkan wajah anaknya ke bumi dan langsung menggoreskan pedangnya ke leher putranya. namun Pedang di tangan Ibrahim tak mampu menebas leher Ismail.

Tiba-tiba dari arah yang tidak di ketahui. Malaikat Jibril datang  .”Jangan kau korbankan anak itu dan jangan kau apa-apakan dia, sebab  Tuhan  Maha mengetahui Keimananmu, engkau takut akan Allah, dan engkau rela mengorbankan dan menyerahkan anakmu  kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhan Mu sangat Menyayangimu, dan Dia hanya menguji Kesetian mu”  ’ ..!!!.

Mendengar suara itu Ibrahim membalikkan punggungnya. tiba-tiba ia melihat seekor domba jantan di belakangnya, lalu ayah ismail ini mengambil hewan yang muncul dengan kekuatan mukjizat itu sebagai korban pengganti putranya.

Nyatalah peristiwa ini merupakan ujian semata, Perintah Korban itu hanya untuk menguji tingkat keyakinan dan keimanan Ibrahim kepada Tuhan. Dan Tuhan telah membalas dengan kebaikan yang penuh hikmah.

Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata (bagimu). Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.” (QS. Ash-Shâffât, [37]: 106).

Kemunculan Hewan Korban sebagai tebusan nyawa manusia sekaligus menjadi tanda keagungan dan kebenaran suatu ajaran. Tuhan tidak mungkin memberikan perintah yang melanggar Fitrah Manusia.

Dan pada saat itu juga semesta alam beserta seluruh isinya ber-takbir (Allâhu Akbar) mengagungkan kebesaran Allah SWT atas kesabaran kedua umat-Nya dalam menjalankan perintahnya.

Peristiwa itu membuat penduduk langit kagum lalu mengagungkan dan membesarkan nama Tuhan dengan kalimat takbir, “Allâhu Akbar, Allâhu Akbar, Allâhu Akbar”. Nabi Ibrahim AS menyahut, “Lâ Ilâha Illallâhu wallâhu Akbar”. Ismail mengikutinya, “Allâhu Akbar wa lillâhil hamd”. Kemudian bacaan-bacaan tersebut dibaca pada setiap hari raya kurban (Idul Adha).

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s