Makna Idul Fitri dan Kembali ke Fitrah.

jenahar-4Fitrah Manusia itu Sama

Semua umat Islam dari segala penjuru dunia malam ini serempak mengumandangkan alunan suara takbir, tasbih, tahmid dan tahlil. Idul Fitri adalah merupakan puncak dari pelaksanaan ibadah puasa.

Kebahagiaan ini merupakan manifestasi kemenangan setelah berhasil menjalani latihan mandiri membersihkan jiwa dengan memerangi hawa nafsu selama 30 hari, atau sebagai bentuk ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT atas anugerah besar yang di peroleh setelah menjalankan ibadah di bulan Ramadhan.

Idul Fitri memiliki makna yang berkaitan erat dengan tujuan yang akan dicapai dari kewajiban berpuasa itu sendiri yaitu manusia yang bertaqwa. Idul Fitri bisa berarti kembalinya kita kepada keadaan suci, atau keterbebasan dari segala dosa dan noda sehingga berada dalam kesucian (fitrah).

Makna Kembali ke Fitrah

Secara bahasa, Fitrah artinya al khilqah yaitu keadaan asal ketika seorang manusia diciptakan oleh Allah (lihat Lisaanul Arab 5/56, Al Qamus Al Muhith 1/881). Menurut Prof.DR. Quraish Shihab, istilah fitrah diambil dari akar kata al-fithr yang berarti belahan. Dari makna ini lahir makna pencipta atau kejadian, .

Menurut hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu ‘Abbas, fitrah adalah awal mula penciptaan manusia. Al-Qurthubi mengatakan  bahwa fitrah bermakna kesucian, Sementara Ibnu Katsir mengartikan fitrah dengan kecenderungan untuk meng-Esa-kan Tuhan dan berusaha terus mencari untuk mencapai ketauhidan tersebut.

Abdullah Yusuf ‘Ali menafsirkan fitrah dengan standard religion. Sedangkan Nurcholis Madjid mengatakan bahwa fitrah berarti kejadian asal pada manusia yang memberikan kemampuan bawaan untuk mengetahui kebenaran dan kebatilan.

Prof Dr Muhammad Quraish Shihab menjelaskan kemampuan bawaan manusia ini ada 3 macam, yakni, fitrah kepada kebenaran yang menghasilkan ilmu, fitrah kepada kebaikan yang menghasilkan etika, dan fitrah kepada keindahan yang menghasilkan seni. Perpaduan antara ilmu, etika, dan seni itulah yang membuat hidup kita menjadi utuh, damai, dan tertib.

Tidaklah seorang anak dilahirkan kecuali tetap pada fitrahnya, sehingga lidahnya memalingkan padanya. (HR. Muslim dari Mu’awiyah).

Setiap perbuatan yang manusia lakukan untuk kepentingan kesejahteraan diri manusia akan menambah satu lapisan ego yang semakin mempertebal jarak antara dirinya dan Tuhan, baik yang dipahami di dalam diri maupun di luar diri. Demikian pula setiap tindakan yang dilakukan tanpa mengingat kepentingan diri sendiri, akan mengurangi hambatan untuk mencapai FITRAH yang murni.

Semua manusia itu sama dalam asal kejadian dan akhir kehidupanya, mereka juga di ciptakan dengan asal kejadian yang sama dan akan kembali ke tampat asal mula kejadian yang sama.

Semua manusia menginginkan kebahagiaan lahir maupun batin, Bahkan mereka yang hidup tidak beradab dan melakukan perbuatan-perbuatan maksiat sesungguhnya memiliki sifat dasar yang murni dan baik.

Penyebab seseorang bersikap tidak baik adalah karena adanya banyak pandangan salah dan kesan-kesan negatif yang ada di dalam hati. “Dari kejahatan (bisikan) yang tersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia”.(An-Nas)

Suatu hari manusia akan terbebas dari pandangan salah yang menyebabkan banyak masalah, dan cepat atau lambat manusia akan kembali ke Fitrahnya. yakni fitrah kembali kepada Tuhan. (Sesungguhnya kami adalah kepunyaan Allah dan kepada Allah jugalah kami kembali). (Al-Baqarah 2:156). Dengan demikian Fitrah hanya punya satu tujuan yaitu selalu ingin kembali kepada Tuhan Penciptanya.

Melalui bulan Ramadan umat muslim diajak senantiasa meningkatkan ibadah dan amalan kepada Allah SWT. Hal itu dapat membangun komunikasi kepada Tuhan sebagai tempat berlindung, tempat mengadu dan tempat memohon pertolongan.

Jika kita dapat menerima pemahaman ini dan selalu mengingatnya dalam pikiran kita, setiap kali kita bertemu orang lain, maka daripada merasa “kamu berbeda dari saya”, lebih baik “kita  merasa, bahwa  “kamu sama seperti saya”.  Sehingga secara alami akan muncul semangat membangun Silaturahim ( jalinan ikatan kasih sayang) dengan ikhlas sesuai Fitrah manusia itu sendiri.

“Wahai manusia, ingatlah, sesungguhnya Tuhanmu adalah satu, dan nenek moyangmu juga satu. Tidak ada kelebihan bangsa Arab terhadap bangsa lain. Tidak ada kelebihan bangsa lain terhadap bangsa Arab. ” (H.R. Ahmad, al-Baihaqi, dan al-Haitsami).

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal.(Q.S. Al-Hujurat [49] : 13).

Begitu pentingnya silaturahim sehingga Rasulullah SAW bersabda “Tidaklah dua orang muslim bertemu lalu berjabat tangan melainkan keduanya akan diampuni (dosanya) sebelum mereka berpisah. (HR.Daud,Tirmidzi&Ibnu Majah) . “

Kita telah mengalami bagaimana  rasanya jatuh sakit atau merasa sakit saat terluka, merasa kesepian, atau bagaimana rasanya terluka oleh kata-kata yang tidak baik, bagaimana rasanya takut pada masa depan yang tidak pasti, dan berduka saat orang yang kita cintai meninggal.

Dengan Silaturahim kita akan melihat dan mendengar orang lain mengalami hal yang sama, hati kita akan terbuka oleh perasaan empati dan keinginan untuk berbuat kebaikan dengan memberi pertolongan. Empati yang tidak terbatas adalah mendoakan agar semua manusia dapat memperoleh kebahagiaan . yaitu kebahagiaan sejati yang tidak hanya di kehidupan ini tapi juga dalam kehidupan yang akan datang. .

Kebaikan itu adalah sesuatu yang membuat hati dan jiwa merasa tenang, sedangkan dosa adalah sesuatu yang membuat hati gelisah dan menimbulkan kebimbangan dalam dada (HR. Ahmad dan lain-lain. Syekh Al-Albani menilai hadis ini hasan)

Rasa benci yang melahirkan permusuhan, rasa iri yang menyebabkan orang tersakiti dan dendam yang mengakibatkan manusia saling menghancurkan merupakan sifat manusia yang muncul kepermukaan sebab pengaruh unsur jahat dari luar.

Semua sifat negatif itu bukanlah fitrah azali manusia, Fitrah manusia suci tanpa noda, tetap tenang dan selalu merasa DAMAI (Salaam), Bebas (Ikhlas) dan Tentram (Ridho).

“Maka hadapkanlah dirimu dengan lurus kepada agama itu, yakni fitrah Allah yang telah menciptakan manusia atas fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya.” QS. Ar-Rum: 30..

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s