Kiblat dan Arah Kiblat

 

Masjid Dua KiblatPengertian Kiblat  

KIBLAT : Secara etimologi, dalam Kamus Al munawir kata kiblat  merupakan salah satu bentuk derivasi dari abala, yaqbalu, qiblah yang berarti menghadap  atau berarti arah. Qiblah secara harfiah sinonim dengan kata al-jihah yang berarti arah, dan merupakan bentuk fi’lah dari kata al-mubalah sehingga kiblat berarti ‘keadaan menghadap’.

Al-Manawi dalam kitabnya at-Tauqif ‘al-Muhimmat at-Ta‘rif menjelaskan bahwa “kiblat” adalah segala sesuatu yang ditempatkan di muka, atau sesuatu yang kita menghadap kepadanya. Jadi secara harfiah kiblat mempunyai pengertian arah ke mana orang menghadap.

Dalam pengertian lain yang dimaksud dengan kiblat adalah arah mata angin yang menuju ke Ka’bah di Makkah Al-Mukarraomah. Adapun yang dimaksud dengan arah adalah arah dengan jarak terdekat, bukan arah sebaliknya (180°).

Oleh karena itu Ka’bah disebut sebagai kiblat oleh umat Islam karena ia menjadi arah yang kepadanya orang harus menghadap dalam mengerjakan salat di manapun mereka berada.

Pengertian Arah Kiblat 

ARAH  KIBLAT : Kata “Arah“ berarti jurusan, tujuan dan maksud. Ada juga yang mengartikan “Arah” sebagai jihad, syathrah dan azimuth.  Imam Az-Zamakhsyari  dalam Tafsir Kyasaf menjelaskan bahwa makna syatrah adalah arah ka’bah bukan bangunan fisik ka’bah (  a’inul ka’bah ) karena menghadap persis tepat ke arah Ka’bah sangat menyulitkan.

Pakar Hukum Islam berkesimpulan bahwa kiblat bagi umat Islam yang tengah berada dalam Masjid Haram adalah bangunan fisik ka’bah. Sedangkan kawasan Masjidil haram adalah kiblat bagi orang Mekah. Bagi Masyarakat dunia Islam diluar Masjidil haram dan tanah haram di nyatakan arah kiblat mereka adalah kawasan tanah haram.

Muhyiddin Khazin mendefiniskan kiblat sebagai arah atau jarak terdekat sepanjang lingkaran besar yang melewati kota Makkah dengan tempat kota yang bersangkutan. Jadi yang dimaksud dengan “Arah Kiblat“ adalah arah atau jarak terdekat yang diukur melalui lingkaran besar pada permukaan bumi yang melewati kota Makkah dengan tempat kota yang diukur.

Sedangkan posisi Ka’bah berada di permukaan bumi yang berbentuk bulat mirip bola, maka dalam menentukan posisi Ka’bah dari tempat kota yang diukur itu harus diberlakukan ketentuan yang berlaku pada bola. Arah dari suatu tempat ke tempat lain di permukaan bumi ditunjukkan oleh busur lingkaran terpendek yang melalui atau menghubungkan kedua tempat tersebut.

Dengan demikian arah Kabah yang berada di kota Makkah dapat diketahui dari tempat manapun di permukaan bumi ini dengan menggunakan ilmu ukur segitiga bola atau trigonometri bola (spherical trigonometri) yakni ilmu ukur sudut bidang datar yang diaplikasikan pada permukaan berbentuk bola yaitu bumi yang kita tempati.

Ilmu ini pertama kali dikembangkan para ilmuwan muslim dari Jazirah Arab seperti Al Battani dan Al Khawarizmi dan terus berkembang hingga kini menjadi sebuah ilmu yang mendapat julukan Geodesi (ilmu yang mempelajari tentang bumi). Segitiga bola menjadi ilmu andalan tidak hanya untuk menghitung arah kiblat bahkan termasuk jarak lurus dua buah tempat di permukaan bumi.

Selain itu, Seorang matematikawan dan astronom Muslim Abu Raihan Al-Biruni telah melakukan perhitungan yang tepat untuk menentukan arah kiblat dari berbagai tempat di dunia. Bahkan Al-Biruni di dalam karyanya “al-Qanun al-Mas’udy” telah mengurai secara ringkas tata cara penentuan arah kiblat secara astronomis dan sistematis.

Untuk Indonesia, diskursus arah kiblat dipelopori oleh Syeikh Muhammad Arsyad al-Banjari pengarang kitab Sabilal Muhtadiin, yang belajar ilmu astronomi langsung dengan Ibrahim Ar-Rais az-Zamzami. Namun semarak kajian astronomi praktis di Indonesia pertama kali dicetuskan oleh Pendiri Muhammadiah KH. Ahmad Dahlan.

Arah kiblat di Indonesia berkisar antara 290 dan 295 derajat sesuai dengan letak tiap lokasi daerah. Penentuan arah itu secara sederhana bisa dilakukan lewat internet dan kompas.

Di Pulau Sumatera, mulai Sabang, Aceh, Padang, dan Bandar Lampung, arah kiblat berkisar pada 291-295 derajat. Di ibukota provinsi di Pulau Jawa, arah salat berkisar pada angka 294 dan 295 derajat.

Sebenarnya arah jarum kompas tidak benar-benar menunjuk arah utara. Untungnya, penyimpangan ini di Indonesia nilainya sangat kecil sehingga dapat diabaikan.

Selisih satu derajat tidak ada artinya buat orang salat, tapi untuk  masjid yang baru dibangun,  arah kiblat harus tepat sampai menit dan detiknya. sebab jarak terpisah antara Ka’bah dan Indonesia berkisar pada kilometer 6000-an hingga 11.000-an km.

Jika jarak yang terpisah adalah 8000 km, maka penyimpangan arah kiblat 1 derajat memberikan penyimpangan posisi kiblat dari Ka’bah sekitar 140 km dari Ka’bah.  Penyimpangan yang mencapai lebih dari 9 derajat, maka kiblat akan mengarah ke masjid Al Aqsha di Palestina.

Di beberapa mesjid di Jakarta ternyata hanya beberapa mesjid saja,  yang kiblatnya di nyatakan mendekati persis tepat ke arah ka’bah, salah satunya adalah masjid Istiqlal berkisar 295,14 derajat dari Utara,

Sedangkan dari data penelitian lebih dari 300 masjid di Jakarta arah kiblatnya di nyatakan kurang tepat. Arah kiblat yang benar dari Jakarta adalah sekitar 295,12 derajat dari Utara.

Banyak masjid-masjid yang mulai merubah arah kiblatnya dengan mengatur posisi sajadah, membuat garis bantu baru, dan lain-lain. Perubahan arah kiblat ini sempat menjadi berita yang ramai dibahas di layar kaca. Perubahan ini kontan mempengaruhi ibadah sholat bagi kaum muslim.

Untuk penentuan arah kiblat pada masjid yang baru dibangun, Tim dosen Teknik Geodesi Institut Teknologi Bandung biasanya memakai alat global positioning system, alat pengukur sudut theodolite, dan perangkat lunak penghitung arah.

Lokasi Ka’bah berdasarkan pengukuran menggunakan Global Positioning System (GPS) maupun menggunakan software Google Earth secara astronomis berada di 21° 25′ 21.04″ Lintang Utara dan  39° 49′ 34.04″ Bujur Timur. Angka tersebut dibuat dengan ketelitian cukup tinggi. Namun untuk keperluan praktis perhitungan tidak perlu sedetil angka tersebut.

Menurut dosen Teknik Geodesi Institut Teknologi Bandung Hasanuddin Zainal Abidin, dengan memakai dua patok, arah kiblat bisa ditarik dengan garis lurus. cara ini sudah ia gunakan pada lima masjid di Jawa Barat.

Daftar Pustaka

1. http://id.wikipedia.org/wiki/Kiblat
2. http://www.pustakasekolah.com/pengertian-kiblat.html
3. http://www.tarbiyahiainib.ac.id/tentang-arah-kiblat-shalat
4. http://www.hidayatullah.com/membincang sejarah dan-metode-penentuan-arah-kiblat.html
5. http://www.tempo.co/read/news/2010/07/21/061265228/Arah-Kiblat-Indonesia-Berkisar-290-295-Derajat

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s