Penentuan Arah Kiblat

Perhitungan geometris arah kiblat
Perhitungan geometris arah kiblat. Sumber Gambar : wikipedia/Kiblat

Menurut dosen Teknik Geodesi Institut Teknologi Bandung, Hasanuddin Zainal Abidin, ada berbagai cara menentukan arah kiblat, mulai yang sederhana hingga rumit. Cara sederhana bisa dipakai orang saat melaksanakan salat, sedangkan penghitungan yang rumit digunakan ketika menentukan kiblat pada awal pendirian masjid.

Dalam penentuan arah kiblat pada masjid yang baru dibangun, tim dosen Geodesi biasanya memakai alat global positioning system, alat pengukur sudut theodolite, dan perangkat lunak penghitung arah.

Sementara, bagi masyarakat umum walaupun penggunaan GPS dan theodolit bisa mendapatkan hasil arah kiblat yang lebih presisi dan tepat namun dalam pengoperasiannya kedua peralatan  tersebut membutuhkan tenaga profesional, di samping itu harga sebuah theodolite seperti merk Nikon NE-102 sekitar Rp.35 juta.  Angka ini terlampau tinggi untuk kantong pribadi.

Untuk mengetahui ketepatan arah kiblat, masyarakat  sering menggunakan kompas kiblat, kompas sajadah atau dengan teknologi penginderaan jarah jauh via internet seperti menggunakan software Google Earth atau secara online seperti Qibla Locator atau RHI Qibla Locator, Dengan cara di atas umat Islam dapat dengan mudah mengetahui arah kiblat sebuah bangunan masjid secara visual dan jelas.

Namun demikian penggunaan teknologi tersebut sering terkendala beberapa masalah. Kompas belumlah dikatakan sebagai alat ukur arah kiblat yang presis dan tepat. Sebab dalam penggunaannya, kompas sering mengalami kesalahan. Kesalahan tersebut berupa penyimpangan jarum kompas baik oleh variasi magnetik secara global maupun atraksi magnetis secara lokal.

Fasilitas Google Earth maupun  Qibla locator walaupun dapat membantu umat Islam mengetahui arah kiblat secara visual dengan perhitungan yang sangat akurat, namun piranti tersebut bukan merupakan alat ukur yang presisi di lapangan dan itupun hanya dapat dinikmati oleh kalangan tertentu.

Selain cara d atas, dalam praktik penentuan arah kiblat, ada tiga cara modern, sederhana dan gratis yang berkembang di masyarakat, cara ini sering digunakan kalangan umum dan terpelajar. Yaitu, (1) menggunakan ilmu ukur segitiga bola, (2) memperhitungkan bayang-bayang kiblat, (3) memanfaatkan momen matahari melintas di atas Kakbah.

Cara ketiga adalah cara sederhana yang dapat dilakukan tanpa memerlukan hitungan. Yaitu, ketika terjadi deklanasi matahari sama dengan Lintang Ka’bah atau ketika matahari tepat di atas Makkah. Cara Mengukur Arah Kiblat Saat Matahari tepat di atas Ka’bah cukup sederhana.

Untuk Indonesia, momen ini terjadi dua kali, yaitu setiap tanggal 27 Mei (tahun kabisat) atau 28 Mei (tahun Basitat) pukul 16:18 WIB dan tanggal 16 Juli (tahun kabisat) atau 16 Juli (tahun Basitat) pukul 16: 27 WIB

Tentu saja pada waktu tersebut hanya separuh dari bumi yang mendapat sinar matahari. Selain itu terdapat 2 hari lain dimana matahari tepat di “balik” Ka’bah (antipoda), dimana bayangan matahari pada waktu tersebut juga mengarah ke Ka’bah.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s