Belajar Mengenal Batu Permata Korundum

Corundum
Batu Korondum

Korundum

Korundum adalah kristal aluminium oksida.  Aluminium oksida merupakan sebuah senyawa kimia dari aluminium dan oksigen,  Secara alami mineral ini jernih, tapi dapat memiliki warna yang berbeda. aluminium oksida terdapat dalam bentuk kristal Korundum.

Aluminium oksida memiliki kekerasan 9 dalam skala Mohs dengan kekerasan Absolut 400.  Kekerasan korundum dua kali lebih keras daripada topaz, namun intan hampir empat kali lebih keras daripada korundum. kekerasan absolut diukur menggunakan sklerometer.

Shapire2
Sebuah ruangan pemangkasan Batu Safir Kasar sebelum dipotong. Myanmar

Uji sklerometer Turner terdiri dari pengukuran lebar goresan secara mikroskopis yang dihasilkan oleh intan dengan bobot tertentu, dan ditarik melintasi penampang spesimen dengan kondisi tertentu. Alat ini ditemukan oleh Prof. Thomas Turner pada tahun 1896.

Selain kekerasannya, korundum dikenal karena densitasnya yang tinggi (4,02 g/cm³), angka ini merupakan nilai pengukuran massa jenis yang sangat tinggi untuk suatu mineral transparan yang tersusun dari unsur ber-massa atom rendah aluminium dan oksigen. Beberapa emery atau corundite batuan granular gelap sebagian besar terdiri dari mineral korundum ( aluminium oksida ).

Ruby dan Sapphire secara ilmiah terdiri dari mineral korundum  tetapi hanya berbeda warna. Ruby adalah varietas merah, dan Sapphire adalah varietas yang meliputi semua warna lain, kedua istilah ini digunakan untuk menyebutkan berbagai batu permata yang tersusun dari mineral korundum, jika tidak maka hanya disebut Korundum.

Pada 1837, Marc Antoine Gaudin membuat batu ruby sintetis pertama dengan menggabungkan alumina pada suhu tinggi dengan sejumlah kecil kromium sebagai pigmen.

Setelah itu Pada tahun 1847, Ebelmen membuat White Sapphire Sintetis dengan menggabungkan alumina di asam borat .

Empat puluh tahun kemudian, tahun 1877 Frenic dan Freil membuat corundum crystal dari batu-batu kecil yang dapat dipotong. Sedangkan kolaborasi Frimy dan Auguste Verneuil memproduksi Ruby sinteisis dengan menggabungkan BAF 2 dan Al2 O3 dengan kromium sedikit pada suhu di atas 2.000 ° C (3632 ° F).

Kemudian Pada tahun 1903, kimiawan Perancis Auguste Verneuil mengumumkan hasil produksi batu ruby sintetis menggunakan metode The Verneuil Proses pada skala komersial.  The Verneuil Proses adalah metode sukses  komersial  manufaktur pertama  untuk produksi batu permata sintetis.

Berlian Buatan
Cubik Zirkonia(CZ)  , berlian tiruan yang paling gemologically dan ekonomis, sejak tahun 1976.

Batu Ruby dan Sapphire varietas korundum. serta Berlian Tiruan (diamond simulant Rutile) dan strontium titanat, kadang-kadang strontium titanat merupakan berlian tiruan, pada masa itu, di produksi oleh Auguste Verneuil menggunakan The Verneuil Proses, Cara kerja alat ini melibatkan pencairan zat bubuk halus menggunakan api oxyhydrogen,

Pada tahun 1947, Devisi Linde Air Products, Union Carbide mempelopori penggunaan proses Verneuil untuk membuat Sapphire Star, dan produksi dihentikan pada tahun yang sama sebab persaingan luar negeri yang ketat..

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s