“Giok Di Alur Tengku”Catatan Endrayani Dewi, Redaktur Senior Jawa Pos

Nannga Raya, Aceh

Giok di Alur Tengku, Nagan Raya, Aceh

Lokasi tambang batu giok memang cukup sulit ditempuh. Endrayani Dewi Redaktur Senior Jawa Pos pekan lalu bersama teman wartawan dari Rakyat Aceh (Jawa Pos Group), menemui para pencari giok di Nagan Raya. Nanggroë Aceh Darussalam.

Dari Banda Aceh, Mereka harus menempuh perjalanan darat selama delapan jam, melewati Aceh Besar, Meulaboh, Calang, Aceh Jaya, baru Nagan Raya.  terus menyusuri jalan sempit yang terjal dan berliku menuju Desa Krueng Isep.

Jalan ke lokasi tambang batu giok di Alur (Sungai) Tengku  belum bisa dilalui kendaraan. mereka masih perlu berjalan kaki menyusuri jalan setapak naik ke puncak gunung dengan jarak sekitar 15 km dari Desa Krueng Isep.

Menurut Catatan Perempuan berjilbab tersebut, Sejak setahun lalu, ketika batu giok diburu kolektor, banyak warga Nagan Raya. yang semula menjadi petani, pekerja kebun, atau kuli bangunan spontan berubah pikiran meninggalkan profesi lamanya.  lalu mencoba keberuntungan  menjadi  pencari batu giok Aceh.

Meski penduduk setempat ahli mencari batu giok, Mereka rata-rata tidak menyadari bahwa kini harga batu yang biasa dipakai untuk hiasan cincin atau bandul kalung itu melambung tinggi. Misalnya, giok Nagan dengan ukuran keliling 2 cm di Banda Aceh dijual Rp 700 ribu untuk jenis neon atau biosolar.

Salah satu pencari giok bernama Nurja mencontohkan, sebagaimana Catatan Wartawan Jawa Pos tersebut, batu giok sebesar ’’gajah’’ akan dihargai sekitar Rp 70 juta oleh para pemodal. Padahal, setelah diolah menjadi hiasan cincin, harganya bisa berlipat menjadi ratusan juta rupiah. Biasanya, warga setempat mencari batu sudah dibiayai oleh pemodal. setelah mendapat giok dari bongkahan batu besar. Mereka langsung menyerahkan ke pemilik modal.

Wakil Kompartemen Halaman Metropolis Jawa Pos itu menulis, mencari giok di Alur Tengku tidaklah mudah. Umumnya para pencari berkelompok. Setiap kelompok berisi sekitar lima orang. Dengan alat seadanya, mereka menyusuri sungai dari hulu ke hilir. Mereka biasa menginap berhari-hari di hutan atau di pinggir-pinggir sungai dengan mendirikan kemah dari plastik.

Naufal salah satu warga setempat yang sukses menjadi pencari giok kini memiliki 15 anak buah yang dibagi dalam tiga kelompok untuk mencari batu giok. Pada 2014 lalu, ia beruntung mendapat batu topas. Batu itu terjual seharga Rp 300 juta per kilogram. Uang hasil giok itu ia belikan tanah di daerah Meulaboh.

Sebagaimana diketahui, kekuatan giok di Nagan Raya termasuk yang terbaik di dunia. Tingkat kekerasan batunya hanya dua atau tiga grade di bawah diamond yang mencapai 10 skala Moh’s (skala kekerasan untuk batu)

Catatan Endrayani Dewi, Kekuatan batu giok Nagan tersebut, sudah dites tim ahli dari Korea. Tim Korea tersebut sempat membagikan 20 alat untuk mendeteksi kekuatan batu giok yang ditemukan. Orang Korea atau Singapura membeli giok selain untuk industri, mereka gunakan Giok Nagan untuk bahan pembuatan campuran senjata api. Bahkan, mereka yakin batu giok di Nagan ada yang berkualitas diamond (berlian) yang bisa untuk bahan pembuat hulu rudal. Kehidupan Para Pencari Giok di ALur Tengku, NAD. Catatan Endrayani Dewi, Jawa Pos, Kamis, 19 maret 2015

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s