Belajar Mengenal Fenomena Batu Permata

diamond solo_white
Sebutir Batu Permata Yang Indah dan Mengagumkan, Berlian ini sering di sebut “Diamond Solo White”

Batu Permata

adalah sebuah mineral, batu yang dibentuk dari hasil proses geologi yang unsurnya terdiri atas satu atau beberapa komponen kimia yang mempunyai harga jual tinggi, Batu permata harus dipoles sebelum dijadikan perhiasan. Dalam geologi, batu adalah benda padat yang terbentuk secara alami dari mineral dan atau mineraloid. Secara umum batuan  ada tiga jenis, yaitu batuan beku, sedimen, dan metamorf. secara ilmiah batuan disebut petrologi.

Batuan beku atau Igneus adalah jenis batuan yang terbentuk dari magma yang mendingin dan mengeras, dengan atau tanpa proses kristalisasi,  Batuan umumnya diklasifikasikan berdasarkan komposisi mineral dan kimia, dengan tekstur unsur partikel  dan oleh proses  pembentukan.

Tekstur didefinisikan sebagai keadaan atau hubungan yang erat antar mineral-mineral sebagai bagian dari batuan dan antara mineral-mineral dengan massa gelas yang membentuk massa dasar dari batuan.  Kristalinitas dalam fungsinya digunakan untuk menunjukkan berapa banyak yang berbentuk kristal dan yang tidak berbentuk kristal,

Ditinjau dari pandangan dua dimensi  kristal ada tiga bentuk, Euhedral, apabila batas dari mineral adalah bentuk asli dari bidang kristal. Subhedral, apabila sebagian dari batas kristalnya sudah tidak terlihat lagi. Anhedral, apabila mineral sudah tidak mempunyai bidang kristal asli.

topaz Buying Guide
Batu Permata Topaz

Untuk menentukan komposisi mineral pada batuan beku, cukup dengan mempergunakan indeks warna dari batuan kristal. Atas dasar warna mineral sebagai penyusun batuan beku ada dua kelompok, Pertama Mineral felsik, mineral yang berwarna terang, terutama terdiri dari mineral Kwarsa, Feldspar, Feldspatoid dan Muskovit., Kedua Mineral Mafik, mineral yang berwarna gelap, terutama Biotit, Piroksen, Amphibol dan Olivin.

Sedangkan Menurut ( S.J. Shand, 1943), membagi batuan beku berdasarkan indeks warnanya, Leucoctaris rock, apabila mengandung kurang dari 30% mineral mafik. Mesococtik rock, apabila mengandung 30% – 60% mineral mafik. Melanocractik rock, apabila mengandung lebih dari 60% mineral mafik.

corundum
Batu Permata Korondum

Skala kekerasan mineral Mohs mengklasifikasikan resistensi goresan terhadap berbagai mineral melalui kemampuan suatu bahan keras menggores bahan yang lebih lunak. Skala ini diciptakan tahun 1812 oleh geolog dan mineralog Jerman Friedrich Mohs dan merupakan satu dari beberapa definisi kekerasan dalam teknik materia.

Sebagai zat alami terkeras yang pernah ada ketika skala ini dibuat, intan ditempatkan di puncak skala. Kekerasan bahan diukur terhadap skala ini dengan menemukan bahan terkeras yang dapat menggores suatu bahan lunak atau sebaliknya. Misalnya, jika beberapa bahan mampu digores oleh apatit, namun tidak dengan fluorit, maka kekerasannya pada skala Mohs dapat menempati nilai 4 dan 5.

Skala Mohs adalah skala ordinal murni. Misalnya, Korundum dua kali lebih keras daripada Topaz, namun Intan hampir empat kali lebih keras daripada Korundum.

Metode perbandingan kekerasan dengan melihat mineral mana yang mampu menggores mineral lain sudah lama ada, pertama kali disebutkan oleh Theophrastus dalam tulisannya Tentang Batuan sekitar tahun 200 SM, diikuti Plinius yang Tua dalam Naturalis Historia sekitar tahun 77 M.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s