Mitos Gerhana Bulan di Negeri Nusantara

gerhana bulan
Gerhana bulan adalah hilangnya cahaya bulan sebagian atau total pada waktu malam.

Mitos Gerhana Bulan

Mitos adalah cerita prosa rakyat yang menceritakan kisah berlatar masa lampau, mengandung penafsiran tentang alam semesta dan keberadaan makhluk di dalamnya, serta dianggap benar-benar terjadi oleh yang pemilik cerita atau penganutnya.

Dalam pengertian yang lebih luas, mitos dapat mengacu kepada cerita tradisional. Pada umumnya mitos menceritakan terjadinya alam semesta, dunia dan para makhluk penghuninya, bentuk topografi,  kisah para makhluk supranatural, dan sebagainya.

Pelaku utama yang diceritakan dalam mitos biasanya adalah para dewa, manusia, dan pahlawan supranatural Sebagai kisah suci, umumnya mitos didukung oleh penguasa atau imam/pendeta/guru agama yang sangat erat dengan suatu agama atau ajaran kerohanian.

Suatu teori menyatakan bahwa mitos adalah catatan peristiwwa bersejarah yang dilebih-lebihkan secara terus-menerus sampai akhirnya figur dalam sejarah tersebut memperoleh status setara dewa.

Mitos-mitos bermunculan sebagai alegori tentang fenomena alam namun perlahan-lahan diinterpretasikan secara harfiah. Beberapa pemikir percaya bahwa mitos merupakan hasil personifikasi kekuatan dan benda mati. orang purba memuja fenomena alam seperti api dan udara, dan perlahan-lahan menggambarkannya sebagai dewa. manusia primitif mulai percaya pada hukum-hukum gaib;

kemudian, ketika manusia mulai kehilangan keyakinannya mengenai sihir, mitos tentang dewa diciptakan dan mengklaim bahwa ritual magis kuno adalah ritual keagamaan yang dilakukan untuk menyenangkan hati para dewa. kemudian suatu masyarakat akan menghidupkan kembali suatu mitos untuk menciptakan kembali suasana zaman mistis.

Pada waktu gerhana bulan, dimana bulan yang tadinya terang gelap gulita. Tanda-tanda alam seperti ini sering dihubung-hubungkan dengan Mitos terjadinya peristiwa luar biasa di Bumi tempat manusia tinggal. biasanya paranormal, para sesepuh, para rohaniawan dan yang mengetahui seluk beluk kejadian tanda-tanda alam, sepakat melakukan semadi, mendoakan agar bumi ini terhindar dari bencana.

Tradisi di Indonesia jika terjadi Gerhana Bulan, maka orang-orang sibuk membunyikan kentongan atau benda apa saja yang bisa di pukul. Tujuannya adalah untuk mengusir Kala Rahu yang menelan Bulan. Mitos ini tertuang dalam sebuah Purana yang kemudian menjadi sebuah dongeng dan sangat populer di Negeri Nusantara. yaitu Kisah Kala Rahu Menelan Bulan.


Mitos Gerhana Bulan dan MatahariMitos Kala Rahu Menelan Bulan.

Mitologi mengenai Rahu terkait dengan kisah pemutaran Gunung Mandara untuk mengaduk lautan susu. Diceritakan bahwa pada zaman Satyayuga, para dewa dan asura bekerjasama untuk mendapatkan minuman keabadian atau tirta Amerta. Atas petunjuk Sang Hyang Narayana, mereka tahu bahwa amerta tersebut tersembunyi di tengah lautan susu di Sangkadwipa.

Kemudian mereka segera pergi ke tempat yang diberitahu oleh Sang Hyang Narayana. Untuk mengaduk lautan tersebut, mereka menggunakan Gunung Mandara. Gunung tersebut dicabut, kemudian dipindahkan ke tengah lautan, dengan ditopang oleh seekor kura-kura Raksasa. Naga Basuki digunakan sebagai tali untuk mempermudah pemutaran gunung tersebut.

Setelah proses pengadukan berlangsung lama, munculah berbagai harta karun. Seluruhnya berada di pihak para dewa, sedangkan para asura tidak mendapatkan apapun. Setelah amerta muncul, para asura ingin agar minuman tersebut menjadi milik mereka sebab para dewa sudah mendapatkan harta terlalu banyak. Karena sama-sama kukuh dengan pendiriannya, tejadilah pertempuran antara para dewa melawan para asura.

Setelah Dewa Wisnu turun tangan, peperangan berakhir dengan kemenangan berada di pihak para dewa. Akhirnya, para dewa kembali ke Surga untuk membagi-bagikan tirta amerta yang mereka dapatkan. Agar memperoleh jatah, seorang asura bernama Rahu menyamar menjadi seorang dewa. Ia pun turut serta bersama para dewa yang menunggu gilirannya untuk mendapatkan amerta.

Tipu Muslihat Rahu diketahui oleh Dewa Surya dan Candra. Mereka pun segera memberitahu Dewa Wisnu. Tepat saat tirta amerta mengalir di tenggorokan Rahu, Dewa Wisnu memenggal kepala Rahu dengan senjata Candra Sudrasana. Meskipun kepala dan badannya telah terpisah, namun Rahu mampu hidup sebab tirta amerta telah mencapai tenggorokannya. Akhirnya kepala tersebut marah dan bersumpah akan menelan Surya dan Candra.

Hal tersebut mengakibatkan terjadinya gerhana. Karena kepala Rahu tidak tersambung ke perutnya, maka Surya dan Candra dapat membebaskan diri setelah mereka tertelan. maka sang rembulan muncul kembali kepermukaan. Begitulah setiap Sang Kala Rahu menelan Dewa Bulan terjadilah Gerhana.

Mitologi ini mengandung makna, bahwa manusia yang belum bisa melepaskan sifat angkuh dan angkara murka maka masih belum bisa mendapatkan keabadian. Sang Kala Rahu yang tidak sabar menunggu giliran akhirnya harus kehilangan tubuhnya. Sedangkan Dewa Candra yang menjadi sasaran kemarahan Kala Rahu harus menanggung akibatnya. Dimana jika terjadi gerhana, maka dunia akan mengalami bencana atau musibah.

Terlepas dari mitos atau kepercayaan semacam itu hendaknya sejak usia anak-anak, seseorang sudah menekuni dan memperdalam ajaran agama. Zaman dulu ketika teknologi tidak secanggih sekarang peristiwa Gerhana Bulan dianggap suatu yang mengandung unsur gaib yang penuh misteri. Namun kini dengan pesatnya kemajuan dibidang Ilmu Pengetahuan Dan Teknologi, Peristiwa Gerhana sudah bisa diramalkan kemunculannya dan tidak perlu ditakuti.

”Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda di antara ayat-ayat Allah. Tidaklah terjadi gerhana matahari dan bulan karena kematian seseorang atau karena hidup atau lahirnya seseorang. Apabila kalian melihat gerhana matahari dan bulan, maka berdoalah kepada Allah dan kerjakan sholat hingga gerhana berlalu .”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s