Legenda Air Mata Putri Meng Jiang, Runtuhkan Tembok Raksasa China

Putri Men Jiang
Putri Meng jiang

Putri Meng Jiang

Setelah melalui perjalanan panjang dan berliku, akhirnya mereka berhasil mencapai Tembok Besar itu, sesampainya di sana para Gadis Meng jiang hanya melihat tulang-belulang putih berserakan, tak satupun di antara mayat yang tergeletak di sana dapat di kenali.

Tiba-tiba Seorang pria tua berambut serta berjanggut kelabumuncul dan berkata, “Teteskan darahmu pada tulang itu. Jika tulang itu berubah warna, tulang itu adalah tulang keluargamu.”  Banyak yang mengikuti petunjuk itu sehingga mereka berhasil menemukan tulang-belulang kekasih yang mereka cari. Tragedi memilukan ini melahirkan legenda Air Mata Putri Meng Jiang.

Putri Meng Jiang hidup pada masa pembangunan Tembok Besar Tiongkok di zaman Dinasti Qin, Proyek pembangunan tembok pertahanan itu telah mengorbankan 300 ribu nyawa rakyat yang tak berdosa. Banyak pemuda dari Meng jiang yang ditangkap kemudian mereka menjadi pekerja paksa dalam proyek itu, karena tidak tahan siksaan banyak di antara mereka mati dengan tragis dan mengenaskan.

Para Gadis dari Meng jiang yang mendengar kabar duka itu merasa sangat bersedih. Mereka berbondong-bondong meningalkan kampung halaman menempuh perjalanan menuju lokasi pembangunan. Di tengah perjalanan para gadis itu meneteskan airmata penuh kesedihan.

Putri Meng Jiang merupakan salah satu gadis dari Meng Jiang yang ikut serta dalam rombongan itu, nama asli dari sang putri tidak di ketahui sampai saat ini, bahkan nama wilayah Meng Jiang pun juga tidak di ketahui lokasinya hingga abad ini.

Liu Yi Fei_ Semi Devil Wang Yuyan.Tragedi Pilu Di Musim Gugur

Putri Meng jiang berdiri termenung seorang diri, di suatu hari, pada suatu musim, ketika pohon-pohon mempersiapkan diri untuk menghadapi musim dingin, dan daun-daun berguguran dari pohonnya. Suatu musim saat berkumpulnya seluruh anggota keluarga namun saat ini sang putri tidak hadir di sana.

Biasanya, saat musim gugur tiba, Putri Meng jiang meletakkan meja sembahyang di halaman rumahnya, ia selalu menyediakan kue bulan yang berbentuk bulat lalu melakukan  persembahan dan penghormatan pada leluhur. Setelah bersembahyang, semua anggota keluarganya duduk berkeliling di sebuah meja sambil menikmati kue bulan.

Biasanya saat musim gugur tiba,Putri Meng jiang dan kekasihnya duduk berdua dan  saling bercengkerama di bawah sinar purnama. Kini Putri Meng Jiang terpisah jauh dari keluarga besarnya. kini Putri cantik itu tidak lagi merasakan indahnya musim gugur.di musim gugur tahun ini ia hanya merasa berada dalam suasana kesedihan dan kepedihan.


tembok chinaPutri Meng Jiang Tiba di Pintu Gerbang

Putri Meng Jiang tiba di pintu gerbang Tembok Besar China. ia menapakkan kakinya dengan sedikit keceriaan dan harapan ke sebuah jalan menuju Pintu Gerbang.  Pintu gerbang itu di bangun sebagai benteng pada posisi-posisi penting. disana terdapat Chenglou atau menara gerbang, Chenglou adalah pintu untuk keluar masuk perbatasan, sebagai tempat keluarnya pasukan saat menyerang musuh.

Putri Meng jiang melihat di sisi dalam tembok dibangun pintu dan tangga untuk naik turun. Tembok Besar dibangun dengan menggunakan batu besar yang disisipi dengan tanah dan batu pecahan.

Putri Meng Jiang  senang sekali melihat pemandangan ini dan harapan bertemu orang yang selama ini ia rindukan sudah di depan mata. sebab Meng Jiang percaya Dewi khayangan turun dan memberikan obat panjang umur pada pasangan suami-istri di saat musim gugur. Sang Putri berdoa di dalam hati memohon pada dewi bulan untuk keselamatan orang yang ia rindukan selama ini.

gerbang badalin
Pintu Gerbang Tembok China

Putri Meng Jiang memperhatikan bangunan tembok besar ini dengan seksama, Rata-rata tinggi tembok 23-26 kaki. Lebar bagian atasnya 5 m dan lebar bagian bawahnya 8 m.

Setiap jarak 180 m sampai 270 m terdapat semacam menara pengintai,tinggi menara pengintai 11 sampai 12 meter,menara pengintai ini berfungsi juga untuk menyimpan senjata dan bahan pangan,

Di tembok besar ini Putri Meng Jiang melihat banyak sekali para pekerja paksa yang kesakitan dan prajurit kerajaan yang bengis matanya melotot tajam mengawasi mereka sambil sesekali mencambuk para pekerja tersebut.

Putri Meng jiang terus berjalan menyusuri jalanan panjang tembok china. Pada masa Dinasti Qin, teknologi belum maju,sehingga material yang digunakan adalah tanah campur kerikil. Pada masa itu struktur benteng belum didirikan, beberapa bagian tembok hanya terdiri dari gundukan batu-batu besar.


Wan Xiliang Di Seret Prajurit

Wan Xiliang adalah kekasih Putri Meng Jiang, Pada malam pernikahannya ia diseret oleh prajurit kerajaan untuk di jadikan budak kerja paksa. Sebelum kepergiannya Putri Meng jiang sempat memberikan sebuah patahan dari hiasan rambutnya, sebagian dari patahan itu dibawa Putri sendiri dan sisanya di simpan oleh suaminya.

Kedua tangan mereka saling berpegangan sambil menggenggam erat patahan hiasaan rambut. Mereka mengucapkan janji cinta sehidup semati, Putri Meng Jiang berjanji sepenuh hati, sampai kapanpun ia akan tetap menunggu, dan menanti kepulangan Wan Xiliang.

Putri Meng Jiang6Jika kamu memang harus pergi, tolong tinggalkan aku dengan segala kekuatanku untuk lepas darimu. Sehingga aku bisa tetap kuat dan tegar ketika engkau meninggalkanku dan semoga aku bisa tetap tersenyum ketika harus melepasmu.

Meskipun susah, tapi aku akan mencoba. Mencoba untuk tetap berdiri di atas kakiku sendiri dan menyadari bahwa tidak ada lagi kamu di hari-hariku”.kata Putri Meng Jiang sambil menatap lembut mata suaminya.

Hari demi hari dan malam demi malam berlalu sangat cepat, waktu seakan-akan tak pernah ada, namun Putri Meng Jiang selalu masih di sana, berdiri di samping jendela dengan tetap saja memandang ke luar sembari sesekali ia arahkan pandangan matanya ke sekeliling halaman rumahnya.

Tanganya yang lembut masih terlihat memegang satu patahan hiasan rambut miliknya, selalu saja patahan hiasan rambut itu ia pegang erat sekedar untuk membangkitkan harapan pada dirinya bahwa suatu saat nanti, pintu rumah akan terbuka dan Wan Xiliang akan pulang sebagai seorang suami yang ia rindukan.


tembok-cinaRindu Tak Tertahankan

Hari berganti bulan, namun suami Putri Meng jiang tidak kunjung pulang, bahkan rumor yang beredar para pekerja paksa yang dibawa kesana banyak yang meninggal akibat tidak tahan terhadap cuaca dan juga makanan yang tidak mencukupi.

Putri Meng Jiang terus menerus mengkhawatirkan suaminya, ia masih teguh memendam rasa rindu dan kesedihan itu dalam hati yang paling dalam. Putri Meng Jiang menuangkan semua kerinduan itu dalam syair dan puisi-puisi yang indah.

Putri Meng Jiang selalu mengingat kalimat terakhir dari bisikan indah suaminya. “Jangan menangis istriku, janganlah menangis bersabarlah, tabahkan hatimu, karena kita sudah di ikat bersama dalam cinta yang indah, kita dapat bertahan  dalam penderitaan, pahitnya kesedihan dan dukanya perpisahan, tubuh mempunyai keinginan yang tidak kita ketahui, namun jiwa tetap ada di tangan cinta, sampai kematian datang, dan menyeret kita ke surga “.

putri Meng jiang

Dalam hati sang putri berkata,”Jika Cinta tidak dapat mengembalikan engkau dalam kehidupan ini,pastilah cinta akan menyatukan kita dalam kehidupan yang akan datang“. kata putri meyakinkan diri.

Semakin lama kerinduan itu semakin tak tertahankan, apa lagi rumor yang beredar   para pekerja disana banyak yang meninggal. kabar duka itu membuat kesedihan dan kerinduan sang putri semakin membara dan  tak dapat di bendung lagi.

Sang putri segera menyadari, hanya ada satu cara untuk melepaskan rindu sekaligus memastikan kondisi suaminya, ia harus melakukan perjalanan panjang menuju lokasi pembangunan dan bertemu dengan orang yang ia rindukan.

Semua wanita yang merasakan nasib yang sama merasa lega atas keputusan sang putri, ia memimpin rombongan para gadis dari tanah kelahirannya. atas restu keluarganya mereka memutuskan mengikuti sang putri untuk menyusul suaminya menuju ke tempat pembuatan Tembok Besar itu.


Pencarian Putri Meng Jiang

Malam berganti malam, Putri menelusuri tembok besar China sambil terus mencari Wan Xiliang tanpa henti. Setiap orang yang di temuinya pasti akan di tanyakan perihal keberadaan  Wan Xiliang, apakah mereka mengenalinya atau tidak. setelah sekian lama, berjalan menelusuri panjangnya tembok china.

Putri Meng Jiang hampir mendekati penghujung tembok china yang menjorok ke laut, perjalanan panjang yang cukup melelahkan, butuh berhari-hari untuk sang putri menemukan kepastian kabar kekasihnya. apalagi tembok besar ini memiliki panjang sampai 1000 km. Cinta yang sangat dalam terhadap Wan Xiliang membuatnya mampu melupakan keletihan dan kepedihan.
Penghujung tembok china

Hingga suatu hari, di dekat penghujung Tembok China, ada seorang pekerja paksa, yang mengenali suami Putri Meng jiang,  Sang putri sangat senang sekali mendengar berita ini. Tapi sayang, kegembiraannya hanya sesaat berganti duka yang sangat mendalam.

Pemuda ini menceritakan perihal nasib  Wan Xiliang yang mengenaskan. Sejak di seret menjadi budak kerja paksa di tembok ini, Suami Putri Menjiang tidak tahan menerima cambukan dan siksaan yang teramat kejam. terlebih lagi makanan yang di suguhkan kepada para pekerja tidak layak untuk di konsumsi, mereka semua  menderita dan lemas tidak berdaya.

Putri Mengjiang
Pembangunan Tembok Besar China

Pada suatu hari, di bawah teriknya panas matahari. Wan Xiliang di seret bersama sama pekerja lain, cambuk dan pukulan di hantamkan ke tubuhnya berkali-kali, tubuh wan xiliang penuh luka dan memar, ia menjerit kesakitan. tak ada seorang pun yang berani memberinya seteguk air minum untuk menghilangkan haus.

Sesaat kemudian tubuh suami Putri Meng Jiang terkapar, matanya memandang jauh ke atas awan, ia menghembuskan nafas terakhir, tanganya tetap memegang patahan hiasan rambut dari sang putri. Jasad Wan Xiliang dikuburkan begitu saja di bawah bangunan Tembok Besar ini. Kejadian pahit itu sudah lama berlalu, mungkin, tubuh Wan Xliang sekarang hanya tinggal tulang-tulangnnya saja.

Mendengar cerita itu membaut hati Putri Meng Jiang terluka, ia merasa seperti teiris sembilu, yang begitu pedih dan perih, perjuangannya untuk bertemu sang suami telah berakhir, berhari-hari ia berjalan, siang dan malam, menelusuri jalan yang berliku dan mendaki bukit yang terjal, serta terpaan tiupan angin musim gugur yang dingin, rasa letih dan lelah yang ia rasakan, sudah tidak ada artinya lagi, musnahlah semua harapannya, kekasih yang di cari sudah pergi mendahuluinya.


Terkubur Di Tumpukan Batu

Masyarakat Tiongkok pada masa Dinasty Qin mempunyai tradisi khusus untuk menghormati leluhur atau keluarga yang meninggal, Mendengar Jasad Wan Xiliang tidak di kebumikan sesuai adat istiadat yang berlaku.

Putri Meng Jiang segera mencari tahu keberadaan posisi di mana letak jasad Wan Xiling di kubur dengan tanah, namun tak seorangpun dapat menunjukan dengan pasti di mana letaknya, sebab tembok China begitu panjang, terkubur di bawah tumpukan batu besar pondasi tembok china cukup sulit untuk di temukan.

masa pembangungan china
Masa permulaan pembangunan tembok besar tiongkok

Para pekerja paksa hanya tahu, beberpa teman dari mereka mati begitu saja lalu Prajurit Penjaga  menyeret layaknya binatang liar yang mati terkena busur panah kemudian membawanya ke sebuah tempat di bawah tumpukan batu besar tembok china.

Seketika Putri Meng Jiang terguncang oleh kesedihan yang teramat dalam, dia menangis dan meratap diatas Tembok Besar, airmatanya mengalir dari di pipinya yang lembut dan ranum. sambil sesekali memukul-mukul Tembok Besar itu, Dia menyesali kematian kekasihnya dan menangisi kepiluan hatinya.

Tangisannya merenyuhkan hati para pekerja dan penjaga di sekitar tempat sang putri menangis, sehingga tangisan pilu itu menghentikan pekerjaan mereka dan ikut mencucurkan airmata bersamanya. Langit menjadi gelap dan angin dingin musim gugur menjadi lebih menyengat seakan-akan langit ikut berduka.

Air-Mata-Meng Jian
Putri Meng Jiang bersama Wan Xiliang

Tak mampu menerima kenyataan pahit, Putri Meng jiang berteriak histeris sambil berlari-lari, mencari jasad Wan  Xiliang. Para pekerja dan prajurit penjaga yang melihat kepedihan ini berusaha menenangkan dirinya.

Sehari semalam Putri Meng Jiang terus menangis dan sambil berjalan tertatih-tatih mencari jasad kekasihnya di sepanjang jalan tembok china, yang berliku-liku dan panjang.

Setiap langkah dari Sang putri, mengalir tetesan air mata kesedihan, air mata itu bukti dari kepiluan dan kedalaman cinta sang putri. air mata itu mengalir bersama deras air hujan, air mata itu meresap ke dalam pori-pori dan celah-celah batu besar tembok china.

Dewa langit  mungkin turut menyaksikan kepedihan hati seorang putri dan jeritan para budak kerja paksa di tengah-tengah kemegahan dan kebesaran tembok china. langit terus bergemuruh, kilat pun turut menyambar-nyambar,  hujan turun sangat lebat, namun Sang Putri  tidak menyerah sedikitpun dan terus berjalan dalam pencarian yang panjang.

Pada malam kedua pancarian Putri Meng Jiang. cuaca musim gugur masih tidak mendukung, Hujan dan petir masih saja mencoba menghalang-halangi tekad kuat Putri Meng Jiang.  Perlahan Sang Putri  melangkah gontai dalam gelap malam. Ia merasa putus asa karena tidak bisa mendapatkan petunjuk yang pasti posisi jasad Wan Xiliang di tanam.


Petir Menyambar Tembok

Putri Meng Jiang6

Tiba-tiba sebuah dentuman keras memecah keheningan, Petir menyambar  bangunan tembok yang baru di bangun, sebagian besar bangunan tembok runtuh, suatu keajaiban yang besar, dinding tembok yang terbuat dari batu besar tiba-tiba pecah.

Dari celah-celah pecahan batu itu terlihat sayup-sayup sisa-sisa tubuh pekerja yang terkubur dibawahnya. ada ratuasn tengkorak yang tergeletak di bawah bongkahan batu itu.

Tak satupun dari tulang belulang itu yang dapat di kenali, tulang pekerja paksa itu sudah lama terpendam di sana, semuanya telah bercampur dengan lumpur dan tanah. tidak terkecuali jasad Wan Xiliang.

Melihat tulang belulang itu, Putri Meng Jiang mencoba mengamati satu persatu dari tulang-tulang itu. Sang putri bingung dan berpikir bagaimana dia dapat mengenali jasad Wan Xiliang. Sesaat suasana menjadi hening, malam semakin dingin dan gelap, hujan masih menetes dan suara petir sesekali masih terdengar.


Kakek Misterius Berjanggut Kelabu

Tiba-tiba dari arah yang tidak di ketahui seorang pria tua berambut panjang serta berjanggut kelabu muncul di depannya. ia melangkah perlahan menghampiri Putri Meng Jiang, lalu kakek misterius ini berkata, “Teteskan darahmu pada tulang itu. Jika tulang itu berubah warna, tulang itu adalah tulang keluargamu.”.

Mendengar suara itu Sang putri tersentak, lalu ia menatap laki-laki tua berjanggut kelabu itu, Kakek tua itu memandangnya dengan penuh makna, lalu kakek misterius ini meyakinkan sang putri, “Goreslah ujung jarimu, Biarkan darahmu menetes pada tulang itu. Jika tulang itu berubah warna, itulah tulang suamimu.”.

Putri Meng Jiang

Bergegas Sang Putri  menggores ujung jarinya dan membiarkan darahnya jatuh mengucuri tulang belulang itu. satu demi satu darah itu menetes membasahi tulang tulang itu, sudah puluhan kali dari darah itu mengucuri tulang-tulang di celah-celah pecahan batu itu namun Wan Xiliang belum juga di temukan.

Darah sang putri terus terkuras, darah yang menetes mengalir bersama dengan derasnya air hujan. Sang putri lemas  kekurangan darah, sesaat kemudian terlihat olehnya sesosok mayat yang tidak asiang baginya, dia mengenali kancing baju yang pernah di jahitnya untuk suaminya. tapi sang putri masih ragu,

Sisa darah Putri Meng Jiang di teteskan ke jasad yang berlumuran lumpur itu lalu keajaiban benar-benar terjadi, tulang itu dapat menyerap darah lalu dengan perlahan-lahan tulang itu berubah warna.  melihat kejadian ini Putri Meng Jiang merasa bahagia, dengan spontan ia bersujud terima kasih pada dewa langit dan bumi, dengan tetesan darahnya Putri Meng Jiang berhasil mengidentifikasi jasad Wan Xiliang.


Keteguhan Hati Seorang Wanita

Tidak tahan menahan rasa haru, semua yang melihat kisah memilukan ini mengucurkan air mata, Sang Putri memeluk Wan Xiliang, air matanya mengalir membasahi sisa-sisa tubuh suaminya ini, para pekerja di sana hanya bisa melihat dengan rasa kagum dan haru.

Putri Meng Jiang

Salah satu dari mereka, berkata dengan begitu bijak “Kalian memiliki takdir kepastian untuk memilki kesedihan dan kepedihan, jika hati kalian masih tergetar menyaksikan keajaiban yang terjadi, maka pedihnya penderitaan tidak kalah menakjubkan dari kesenangan“.
Ada di antara mereka yang hatinya terenyuh menyaksikan pedihnya hati Putri Meng Jiang. tanpa sadar dia berkata.

Hati nurani seorang wanita tak berubah oleh waktu dan musim; bahkan jika mati abadi, hati itu takkan hilang musnah, Hati seorang wanita laksana sebuah padang yang berubah jadi medan pertempuran, Sesudah pohon-pohon ditumbangkan dan rerumputan terbakar dan batu-batu karang memerah oleh darah dan bumi ditanami dengan tulang-tulang dan tengkorak-tengkorak, Ia akan tenang dan diam seolah tak ada sesuatu pun terjadi karena musim semi dan musim gugur datang pada waktunya dan memulai pekerjaannya,

Putri Meng Jiang, dengan tenaganya yang masih tersisa membawa tulang suaminya berjalan menelusuri batu-batu besar tembok china. sambil sesekali dia ingat janji setia dan kenangan indah saat sang putri masih bersamanya, Sebagian Patahan hiasan rambutnya, yang dulu dia berikan sebagai bukti cinta dan pengikat janji di pegangnya erat-erat.

putri meng jiang5

Air matanya tidak bisa terbendung lagi, janji itu benar benar menjadi kenyataan, sepasang suami istri itu memang bisa bertemu lagi dalam kedukaan. “Jika Cinta tidak dapat mengembalikan engkau dalam kehidupan ini, pastilah cinta akan menyatukan kita dalam kehidupan yang akan datang“.

Setelah menemukan tempat yang pantas untuk memakamkan tulang suaminya, Putri Meng Jiang mengubur mayat Wan Xiliang menurut ritual layaknya sorang istri yang sangat mencintai suaminya sesuai tradisi tiongkok yang berlaku ketika itu.


Wasiat Putri Meng Jiang

Di hadapan semua prajurit dan orang-orang yang hadir.Putri Meng Jiang berdiri di atas tanah tempat Wan Xiliang di makamkan, di tengah malam yang gelap, Suaranya nyaring bergema menggetarkan langit, Ia memberi pesan kepada mereka.

Wahai kalian prajurit-prajurit Dinasty Qin, Wahai kalian semua rakyat dari dinasty Qin, Wahai kalian, teman-teman Wan Xilian dari Meng Jiang yang tersiksa di balik kokohnya tembok ini, Wahai kalian wanita-wanita dari Meng Jiang yang suaminya mati terkubur laksana seekor binatang karena sakitnya siksaan Tembok Besar ini,”.

” ingatlah kalian…ketika kalian melewati kuburan di dekat tembok besar ini,  berjalanlah perlahan-lahan sehingga langkah kaki kalian tidak akan mengganggu tidur Wan Xiliang, dan berhentilah dengan rendah hati pada makam Wan Xiliang, dan Sapalah bumi yang membungkus mayatnya di tanah ini “,

Cukuplah air mata ini saja dan semua harapan Putri Meng Jiang, yang hidup sebagai tawanan cinta dalam lautan, dikuburkan di siini, Di tempat ini ia kehilangan kebahagiaannya, terkuras air matanya, dan lupa akan senyumannya”.


Kuil Putri Menjiang
Kuil Putri Menjiang

Kuil Putri Meng Jiang

Menurut legenda, bagian Tembok Besar yang runtuh akibat airmata Putri Meng Jiang tidak pernah dibangun kembali, konon kabarnya jika reruntuhan itu dibangun kembali maka tembok itu akan segera runtuh.

Kisah putri Meng Jiang menjadikan dirinya sebagai sosok yang sangat dihormati oleh masyarakat Tiongkok dari generasi ke generasi. Bahkan hingga sekarang bekas yang diyakini sebagai retakan tembok yang terbelah dapat dilihat bila kita mengunjungi Tembok Besar di Beijing.

Di Shanhai Guan juga terdapat sebuah kuil untuk menghormati Putri Meng Jiang dan suaminya, dan di tempat tersebut masih bisa dilihat salinan puisi dari Putri Meng Jiang untuk suaminya

Kuil persembahan Putri Meng Jiang berdiri pertama kali pada waktu dinasti Song, kira-kira 1000 tahun yang lalu, terus terpelihara dan disembah dari permulaan berdirinya Tembok Besar hingga hari ini di daerah timur.

Legenda ini merupakan salah satu cerita yang romantis, sedih, sekaligus mengagumkan karena kekuatan cinta yang begitu hebatnya. Cerita tersebut masih bisa dibuktikan kebenarannya dari bekas napak tilasnya di Tembok Besar Beijing.

Daftar Pustaka

  1. id.wikipedia.org/ Tembok Besar Tiongkok
  2. id.wikipedia.org/Legenda Tembok Raksasa China
  3. en.wikipedia/Lady Men Jiang
  4. mysumber.com/di mana penghunjung tembok besar China
Iklan

2 thoughts on “Legenda Air Mata Putri Meng Jiang, Runtuhkan Tembok Raksasa China”

  1. Blogx bagus~!Izin share ya!sy pstikn situs ini akan ada sy sertakan di daftar pustaka :)hbisx disuruh buat buku utk tugas sejarah mengenai sungai kuning/peradaban cina kuno…

    1. Terima kasih kunjungannya,
      sis marianne…selamat mengerjakan tugas..untuk sejarah sungai kuning/peradaban cina kuno…, mudaha-mudahan athisa88 ada waktu luang menulis artikel mengenai peradaban kuno china..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s