Tokoh Nazi, Alfred Jodl

Tokoh Nazi, Alfred_Jodl

Alfred Jodl

Alfred Josef Ferdinand Jodl, nama lahrnya Alfred Josef Ferdinand Baumgärtler, di lahirkan tanggal 10 Mei 1890 di Würzburg ,Jerman,  Alfred menempuh pendidikan di Cadet School, Munich, lulus pada tahun 1910. Dia menjabat sebagai Kepala Staf Operasi di Oberkommando der Wehrmacht.Alfred.

Irma Gräfin von Bullion
Irma Gräfin von Bullion, istri Jenderal Ferdinand Jodl

Pada tahun 1913, Jodl menikah dengan Irma Gräfin von Bullion yang berasal dari keluarga aristokrat Swabia. Irma meninggal dunia di Königsberg tanggal 18 April 1944, setelah kematian istri pertamanya itu Jodl menikah lagi dengan mantan sekretarisnya yang bernama Luise Katharina von Benda.

Jodl bergabung dengan tentara sebagai perwira artileri. Selama Perang Dunia I ia menjabat sebagai seorang perwira baterai di Front Barat dari 1914-1916, dua kali terluka.

Pada tahun 1917 Jodl bertugas sebentar di Front Timur sebelum kembali ke barat sebagai perwira staf. Setelah perang Jodl tetap dalam angkatan bersenjata dan bergabung dengan Reichswehr.

Jodl diangkat sebagai Mayor di Bagian Operasional Oberkommando Des Heeres. Pada saat itu, ia berada di bawah komando Jenderal Ludwig Beck. Penunjukan Jodl sebagai seorang Major di cabang operasi Truppenamt dari Komando Tinggi Angkatan Darat menempatkannya berada di bawah komando Generaloberst Ludwig Beck,

Mereka melihat potensi Jodl sebagai “orang dengan masa depan yang gemilang”,  di ceritakan pada bulan September 1939 untuk pertama kalinya Jodl bertemu dengan Adolf Kribo eh Hitler .

Jodl mendapatkan tugas pertamanya sebagai seorang Artilleriekommandeur di 44.Infanterie-Division, sejak bulan Oktober 1938 sampai dengan Agustus 1939 (selama berlangsungnya Anschluss Austria dan Cekoslowakia),

Pada dasarnya Alferd Jodl berperan sebagai penghubung antara Hitler dan Wehrmacht,  atau angkatan bersenjata, dan boneka  Kabinet Nazi.

Jodl adalah salah satu yang termuda di antara lingkaran dalam Hitler. sampai dengan berakhirnya perang (Mei 1945) dia menjabat sebagai Chef des Wehrmachtsführungsstabes (Kepala Staff Operasi Wehrmacht).
Alfred Josef Ferdinand Jodl Jodl bertindak sebagai Kepala Staff saat berlangsungnya invasi singkat Jerman atas Denmark dan Norwegia.

Selama berlangsungnya invasi tersebut, Hitler ikut campur tangan pada saat flotilla kapal perusak Jerman dihancurkan di luar Narvi.

Hiter bersikeras agar pasukan Jerman yang sudah terlanjur mendarat di sana mundur ke Swedia. namun Jodl berhasil  mencegah rencana Hitler..

Selama berlangsungnya Pertempuran Britania, Jodl sangat optimis Inggris akan mengalami kekalahan perang sehingga dia menulis  “Kemenangan final Jerman atas Inggris kini hanya tinggal menunggu waktu.” pada buku hariannya tertanggal 30 Juni 1940:

tanggal 6 Juni 1941, Jodl  menandatangani Commissar Order, dalam surat itu disebutkan bahwa setiap Komisaris Politik Soviet yang tertangkap akan langsung ditembak mati.

Setahun kemudian, tanggal 28 Oktober 1942, Jodl menandatangani Commando Order , dalam surat tersebut di sebutkan bahwa pasukan Komando Sekutu, yang memakai pakaian sipil, tidak akan diperlakukan sebagai layaknya tawanan perang

Dalam peristiwa Plot 20 Juli 1944 jodl terluka, karena itulah, Hitler menganugerahi medali khusus Verwundetenabzeichen 20.Juli 1944 bersama dengan beberapa orang tokoh terkemuka Nazi lainnya.

Jodl juga termasuk lantang menyuarakan kecurigaannya bahwa tokoh-tokoh lain tidak mengalami luka separah dirinya, dan kadang bertindak lebih jauh sampai mencurigai yang lain terlibat dalam plot tersebut!

Pada akhir Perang Dunia II di Eropa, Jodl menandatangani pernyataan penyerahan tanpa syarat tanggal 7 Mei 1945 di Reims sebagai perwakilan dari Karl Dönitz (Führer Jerman pengganti Hitler).

Jodl ditangkap dan dikirim ke kamp tawanan perang Flensburg, Schleswig-Holstein. Tak lama kemudian dia menjadi salah satu petinggi Nazi yang diadili oleh Tribun Militer Internasional di Pengadilan Nürnberg.

Jodl didakwa terlibat dalam konspirasi melakukan kejahatan terhadap perdamaian, bertanggungjawab dalam perang yang dilakukan Jerman, kejahatan perang, dan kejahatan terhadap kemanusiaan.

Dakwaan ini terutama bersumber dari tanda tangan yang dibubuhkannya di Commando Order dan Commissar Order, yang dua-duanya menyebutkan tentang hukuman mati terhadap tawanan yang tertangkap.

Dakwaan tambahan di dalam persidangan termasuk deportasi ilegal dan persekongkolan dalam keputusan hukuman mati terhadap musuh-musuh Nazi.

Bukti yang memberatkan Jodl adalah tandatangannya yang tertera dalam perintah pendeportasian warganegara Denmark, termasuk Yahudi dan kalangan sipil lainnya, ke kamp-kamp konsentrasi.

Meskipun dia menyangkal keterlibatannya dalam masalah ini, tapi pengadilan lebih memilih untuk percaya kepada bukti-bukti yang diberikan. Istrinya Luise menjadi salah satu anggota tim pembela dari sang suami tercinta.

Dalam wawancara oleh Gitta Sereny, Luise mengaku bahwa dalam banyak kesempatan tim penuntut Sekutu mendakwa Jodl berdasarkan bukti-bukti dokumen, namun mereka tak mau membagi dokumen tersebut dengan tim pembela!

Tak hanya itu, Jodl juga mampu membuktikan bahwa beberapa dakwaan yang dituduhkan terhadapnya adalah bohong belaka (contohnya adalah dakwaan bahwa dia ikut membantu Hitler naik ke tampuk kekuasaan di Jerman tahun 1933! WTF???).

Konon, dalam satu kesempatan Jodl dibantu oleh seorang pesuruh GI yang bersimpati terhadapnya, dan pesuruh GI tersebut memilih memberikan dokumen penting pada Luise,

Dalam isi dokumen itu menunjukkan bahwa eksekusi terhadap satu tim Komando Inggris di Norwegia telah dilakukan sesuai dengan hukum internasional yang berlaku.

Prajurit GI tersebut memberi peringatan kepada Luise bahwa bila dia tidak menyalin dokumen tersebut sesegera mungkin maka ada kemungkinan bahwa dia tak akan melihatnya lagi (“…Dia akan ‘diarsipkan’”).

Jodl melakukan pembelaan tidak bersalah “di hadapan Tuhan, di hadapan sejarah dan bangsaku”. Yang ada, dia diputuskan bersalah atas semua empat dakwaan,

Meskipun dia memohon kepada pengadilan agar dieksekusi dengan ditembak mati selayaknya tentara. namun jodl tetap dihukum gantung bersama dengan Keitel dan yang lainnya, tanggal 16 Oktober 1946.

Kata-kata terakhir Jodl sebelum maut menjemput adalah “Ich grüße Dich, mein ewiges DeutschlandSambutanku terhadapmu, Jermanku yang abadi”. Dia dinyatakan mati 18 menit kemudian.

Jenazahnya dikremasi di Münich, dan abunya kemudian disebarkan di Sungai Isar, Sebuah tugu di pekuburan keluarga di kompleks pemakaman Fraueninsel di Chiemsee, Jerman, didedikasikan untuk dirinya.

Tanggal 28 Februari 1953, München Hauptspruchkammer (Pengadilan Denazifikasi Utama) mengumumkan bahwa Jodl tidak bersalah atas dakwaan utama yang dituduhkan terhadapnya dalam Pengadilan Nürnberg,

Pengumuman tersebut mengutip kata-kata dari Henri Donnedieu de Vabres, salah satu pengadil asal Prancis, pada tahun 1945 hakim asal Prancis itu mengakui bahwa dakwaan yang dituduhkan terhadap Jodl adalah sebuah kesalahan.

Harta-bendanya, yang telah disita pada tahun 1946, dikembalikan ke jandanya. Anehnya, deklarasi ini ditarik kembali pada tanggal 3 September 1953 oleh Menteri Kebebasan Berpolitik Bavaria yang mendapat dukungan luas dari banyak jenderal Sekutu Barat!

Dalam berbagai hal, deklarasi ini tidak mempengaruhi putusan yang telah dijatuhkan oleh Tribun Militer Internasional, yang keputusannya tidak bisa dirubah lagi oleh pengadilan Jerman.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s